Generasi muda sering kali tidak menyadari bahwa membagikan detail pribadi seperti lokasi, hobi, atau aktivitas harian dapat dimanfaatkan scammer untuk melakukan profiling dan menyusun strategi manipulasi agar korban lebih mudah percaya.
- Ketiga adalah budaya FOMO (Fear of Missing Out).
Dorongan untuk tidak ketinggalan tren, promo, atau peluang membuat Gen Z mudah tergoda dengan berbagai penawaran yang sebenarnya palsu.
BACA JUGA:Executive Chair Hyundai Motor Group Euisun Chung Raih Centennial Automotive News Award
Mulai dari investasi bodong, giveaway palsu, lowongan kerja fiktif, hingga diskon menggiurkan yang hanya dijadikan jebakan.
- Keempat, respons cepat tanpa adanya verifikasi.
Generasi Z cenderung bereaksi spontan terhadap pesan atau informasi yang masuk tanpa melakukan pengecekan ulang.
BACA JUGA:Scarlett Raih Top Brand Award 2025 untuk Kategori Body Serum
Kelemahan ini membuka celah besar bagi para penipu, terutama dalam skema phishing maupun tautan berbahaya yang disamarkan seolah-olah resmi.
Untuk mengurangi risiko tertipu, ada beberapa langkah yang bisa diikuti generasi Z agar lebih aman di dunia digital.
Pertama, selalu lakukan verifikasi terhadap setiap informasi atau tawaran yang terlihat mencurigakan, terutama jika melibatkan permintaan data pribadi atau uang.
Kedua, hindari membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial.
BACA JUGA:Executive Chair Hyundai Motor Group Euisun Chung Raih Centennial Automotive News Award
Ketiga, aktiflah menggunakan fitur keamanan tambahan, seperti autentikasi dua faktor dan pengaturan privasi.
Keempat, biasakan untuk berpikir kritis sebelum mengklik tautan atau menanggapi pesan yang datang dari sumber yang tidak jelas.
Generasi muda, khususnya Gen Z, dituntut lebih bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak menjadi korban penipuan.