SEMARAKNEWS.CO.ID - Kasus keracunan massal yang menimpa ribuan siswa di Kabupaten Bandung Barat akhirnya mulai menemukan titik terang.
Setelah dilakukan serangkaian uji laboratorium, penyebab utama keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terungkap.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat, dr. Ryan Bayusantika Ristandi, memastikan bahwa ada dua jenis bakteri berbahaya yang ditemukan pada sampel makanan MBG, yaitu Salmonella dan Bacillus cereus.
“Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yakni Salmonella dan Bacillus cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” jelas Ryan, dikutip Minggu (28/9/2025).
Temuan ini sekaligus menjawab keresahan publik setelah tercatat 1.333 siswa di Bandung Barat dan 657 siswa di Garut mengalami gejala keracunan massal usai menyantap menu MBG.
BACA JUGA:Catat, 11 Provinsi ini Masih Gelar Program Pemutihan Pajak Kendaraan Oktober 2025
Faktor Penyebab: Rentang Penyajian Makanan Terlalu Lama
Menurut dr. Ryan, penyebab utama tumbuhnya bakteri adalah rentang waktu penyajian makanan MBG yang terlalu lama. Kondisi ini memungkinkan bakteri berkembang biak dengan cepat.
“Jika makanan disimpan pada suhu ruang lebih dari enam jam, apalagi tanpa pengontrolan suhu yang tepat, risiko tumbuhnya bakteri sangat tinggi,” ungkapnya.
Ryan menekankan bahwa makanan seharusnya dijaga pada suhu aman, yakni:
-
Di atas 60 derajat Celcius untuk makanan panas.
-
Di bawah 5 derajat Celcius untuk makanan dingin.
Selain itu, kebersihan saat proses pengolahan juga sangat penting. Mulai dari penggunaan air bersih, peralatan masak steril, hingga higienitas petugas dapur yang wajib mengenakan sarung tangan dan pakaian bersih.
Dinkes Jabar: Perketat Protokol Keamanan Pangan
Menanggapi kasus ini, Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau semua pihak yang terlibat dalam program MBG untuk memperketat protokol keamanan pangan.
Tujuannya jelas: mencegah agar kasus keracunan massal tidak kembali terulang. Menurut Dinkes, aspek yang perlu diperkuat meliputi penyimpanan, distribusi, hingga proses penyajian makanan di sekolah.
Respon Pemerintah: Evaluasi Program MBG Nasional
Kasus keracunan massal ini bahkan sudah sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Ia langsung menginstruksikan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bermasalah ditutup sementara untuk dievaluasi dan diinvestigasi lebih lanjut.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengungkap beberapa poin penting yang masuk dalam evaluasi, di antaranya:
-
Sterilisasi alat makan di dapur penyedia MBG.
-
Perbaikan sanitasi, khususnya kualitas air yang digunakan.
-
Kewajiban setiap SPPG memiliki Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS).
Zulhas juga meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk menggerakkan puskesmas dan UKS agar lebih aktif memantau kegiatan SPPG secara rutin.
“Semua langkah yang kami ambil dilakukan secara terbuka, agar masyarakat yakin makanan yang disajikan aman dan bergizi,” tegas Zulhas.
Ancaman Serius Program MBG Kalau Tidak Dibenahi
Kasus ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis yang sejak awal digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintah.
Jika aspek higienitas, rantai distribusi, hingga penyimpanan tidak diperbaiki, risiko kejadian serupa bisa kembali terjadi di daerah lain. Padahal tujuan utama MBG adalah meningkatkan gizi anak sekolah, bukan sebaliknya membuat mereka jatuh sakit.
Saatnya Perkuat Keamanan Makanan Sekolah
Kasus keracunan massal MBG di Bandung Barat dan Garut harus jadi pelajaran penting. Program ini tetap dibutuhkan, tapi tanpa standar keamanan pangan yang ketat, manfaatnya bisa berubah jadi bencana.
Dengan pengawasan menyeluruh, perbaikan sanitasi, serta transparansi pemerintah dalam evaluasi, diharapkan ke depan MBG bisa kembali berjalan aman, sehat, dan benar-benar memberi gizi terbaik untuk anak bangsa.