Ia menambahkan, keputusan seperti ini bisa merusak integritas kompetisi.
“Jika mereka tidak dapat melihat sesuatu yang salah dalam situasi ini, apakah kami pelatih dan pemain masih bisa berkomentar?” katanya tegas.
Protes dari Timnas Indonesia: Pertanyakan Netralitas Wasit
Tak hanya soal tuan rumah, Timnas Indonesia juga ikut menyampaikan protes kepada AFC, terutama terkait penunjukan wasit asal Kuwait dalam pertandingan ronde keempat nanti.
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, mengaku sudah mengirim surat resmi ke AFC. Menurutnya, keputusan menunjuk wasit dari kawasan yang sama dengan tuan rumah (Timur Tengah) mencederai prinsip fairness dan sportivitas.
“Waktu itu PSSI menyampaikan surat protes kepada AFC, mempertanyakan kenapa perangkat pertandingannya dari Timur Tengah (Kuwait). Kan kita punya wasit handal dari Jepang, Korea, atau Asia Tengah,” jelas Yunus Nusi dalam pernyataannya.
Ia menegaskan bahwa fairplay bukan hanya soal perilaku di lapangan, tapi juga soal kebijakan yang memastikan setiap tim punya kesempatan yang sama.
“Fairplay dan sportivitas itu penting, tapi unsur fairness juga harus dijaga. Jangan sampai satu daratan mengatur yang lain,” tambahnya.
Suara Publik dan Tekanan ke AFC
Publik sepak bola Asia kini menyoroti AFC karena dianggap tidak transparan dalam proses penunjukan tuan rumah dan tidak mempertimbangkan asas keadilan kompetisi.
Banyak pengamat menilai keputusan ini memperlihatkan adanya dominasi politik dan ekonomi dari negara-negara Teluk dalam tubuh AFC.
Tagar #FairPlayAFC bahkan mulai ramai di media sosial, terutama dari pendukung Indonesia dan Irak yang menilai sistem ini merugikan tim mereka.
Ujian Integritas AFC di Mata Dunia
Keputusan menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukan hanya soal teknis pertandingan, tapi juga menjadi ujian besar bagi integritas AFC.
Dengan sorotan media global seperti The Guardian serta protes dari pelatih dan federasi sepak bola Asia, AFC kini dituntut lebih transparan, adil, dan profesional.