“Jejak itu menunjukkan pernah ada rupture sepanjang 800–900 km di wilayah tersebut, menghasilkan gempa hingga magnitudo 9,” jelas Purna.
Bahkan, para peneliti menemukan tiga lapisan endapan tsunami yang menunjukkan kejadian berbeda-beda masing-masing diperkirakan terjadi 1800 tahun lalu, 1000 tahun lalu, dan 400 tahun lalu. Artinya, siklus terjadinya tsunami besar di wilayah ini bisa sekitar 600–800 tahun sekali.
“Jika kejadian terakhir sekitar 400 tahun lalu, maka kemungkinan bisa terjadi lagi dalam 200–400 tahun mendatang,” tambahnya. Namun, ia menegaskan bahwa masih dibutuhkan lebih banyak data untuk memperkirakan waktu pastinya secara ilmiah.
Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Meski potensi gempa megathrust di selatan Jawa bukan berarti akan terjadi dalam waktu dekat, BMKG menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah.
Dwikorita mengingatkan bahwa potensi bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa dikurangi dengan perencanaan tata ruang yang baik, jalur evakuasi yang jelas, dan edukasi masyarakat di wilayah pesisir.
“Yang bisa kita lakukan adalah memastikan masyarakat siap, tahu harus ke mana saat peringatan dini dikeluarkan, dan memahami risiko wilayahnya,” ujarnya.