SEMARAKNEWS.CO.ID - Langkah Pertamina mencampur 3,5% etanol ke bahan bakar bensin akhirnya ditanggapi oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Menurut Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, angka 3,5% itu masih terlalu kecil bahkan bisa dibilang main aman banget kalau dibandingin sama negara-negara lain yang udah jauh melesat lebih dulu.
“Thailand udah main di E20, Amerika ada yang E85, bahkan Brazil udah E100!” ujar Bob dengan nada santai namun tajam, Kamis (9/10/2025).
Menurutnya, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk melangkah lebih berani dalam penggunaan bahan bakar nabati berbasis etanol. Sayangnya, perdebatan publik justru terjebak di angka kecil yang semestinya nggak perlu diributkan.
Indonesia Pernah Bisa Bikin Mesin E100, Tapi Kok Sekarang Ribut 3,5%?
BACA JUGA:Nestlé PHK Besar-besaran, 16.000 Orang Kena Dampak! Ini Rencana Rahasia CEO Baru
Bob mengungkapkan satu fakta menarik: Indonesia sebenarnya sudah mampu memproduksi mesin berbahan bakar etanol 100% alias E100 dua dekade lalu.
“Dua puluh tahun lalu aja kita udah bisa, sekarang kok malah ribut di 3,5%,” ujarnya sambil sedikit menyindir kondisi sekarang.
Padahal, etanol bukan cuma soal efisiensi energi, tapi juga peluang ekonomi besar bagi petani dan industri lokal kalau dikelola dengan benar. Jadi, bagi Bob, perdebatan ini semestinya bukan soal “bisa atau tidak”, melainkan kapan berani melangkah lebih jauh.
Lebih Ramah Lingkungan, Cuma Beda Rp120 per Liter
Salah satu alasan Bob mendukung pemakaian etanol adalah dampak positifnya terhadap lingkungan dan emisi karbon.
Meskipun energi yang dihasilkan etanol memang lebih rendah sekitar 30% dibanding bensin murni, efeknya terhadap efisiensi dan biaya ternyata nggak besar.
“Kalau E30 misalnya, energi turun cuma 1%. Kalau harga bensinnya Rp12.000, ya efeknya cuma Rp120-an. Tapi emisinya bisa turun sampai 65%!” tegas Bob.
Artinya, pengguna bahan bakar campuran etanol bisa hemat emisi tanpa bikin dompet jebol. Istilahnya, lebih bersih, lebih hijau, dan tetap terjangkau.
Petani Sejahtera, Lingkungan Bahagia
Bob juga menyoroti contoh sukses dari India. Negara tersebut memberi subsidi pada etanol karena bahan bakarnya berasal dari hasil pertanian lokal.
“Kalau demand naik, otomatis pendapatan petani ikut naik. Cuma di kita mungkin petaninya belum banyak. Tapi kalau makin banyak yang bisa produksi etanol, siklusnya bakal positif banget,” katanya.
Menurutnya, model ini bisa diterapkan di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, etanol bisa jadi sumber energi hijau sekaligus mesin penggerak ekonomi pedesaan.
Bayangin aja, sawah-sawah yang dulu cuma menghasilkan pangan, kini juga bisa jadi penghasil energi bersih nasional.
BACA JUGA:Reformasi Gila-Gilaan! Prabowo Izinkan WNA Jadi Bos BUMN, Ini Alasannya
Jangan Cuma Ribut, Saatnya Gaspol ke E20!
Di akhir, Bob menegaskan bahwa perdebatan soal etanol 3,5% nggak perlu diperpanjang. Daripada sibuk berdebat, lebih baik semua pihak fokus mempercepat transisi menuju energi bersih.
“Lihat aja negara lain. Mereka udah jalan duluan, kita tinggal nyusul,” ujar Bob.
Toyota melalui TMMIN berharap pemerintah dan pelaku industri bisa bergerak bareng menuju standar E20 atau lebih tinggi, karena potensi Indonesia sangat besar — baik dari sumber daya alam maupun kemampuan teknologinya.