WhatsApp Luncurkan Fitur Baru Anti-Penipuan, Lindungi Pengguna Lansia dari Modus Online!

Sabtu 25-10-2025,08:00 WIB
Reporter : Jeany Pohan
Editor : Priya Satrio

JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Aplikasi pesan populer WhatsApp memperkenalkan fitur keamanan terbaru yang dirancang untuk mencegah penipuan digital, terutama yang menargetkan pengguna lanjut usia.

Fitur ini akan memberikan peringatan otomatis ketika sistem mendeteksi aktivitas berisiko, misalnya saat pengguna membagikan layar ponsel kepada kontak yang tidak dikenal dalam panggilan video.

Kebijakan baru ini muncul di tengah meningkatnya jumlah laporan penipuan daring yang memanfaatkan ketidaktahuan pengguna terhadap teknologi.

Langkah WhatsApp sekaligus menjadi bagian dari upaya Meta, induk perusahaan aplikasi tersebut, dalam memperkuat perlindungan privasi dan keamanan digital.

BACA JUGA:Saldo DANA Gratis Rp100.000 Bisa Cair Sekejap, Cuma Klik Link WhatsApp, Begini Caranya

Peringatan Otomatis Saat Berbagi Layar

Melalui fitur ini, pengguna akan mendapat notifikasi peringatan sebelum berbagi layar dengan seseorang yang belum terverifikasi dalam daftar kontak.

Tujuannya adalah agar pengguna sadar terhadap potensi pencurian data pribadi, termasuk nomor rekening bank, kode OTP, atau informasi sensitif lainnya.

Selain memberi peringatan, sistem juga menampilkan pesan edukatif mengenai berbagai bentuk penipuan yang sering terjadi.

Misalnya, penipuan investasi palsu, undian berhadiah, atau modus berpura-pura sebagai pihak layanan pelanggan resmi.

BACA JUGA:Jokowi Buka Bukti di Depan Projo: Ini Ijazah Asli Saya dari UGM!

Langkah serupa juga tengah diuji oleh Meta di aplikasi Messenger, dengan sistem yang mampu menganalisis pesan dan mengenali pola komunikasi mencurigakan.

Bila terdeteksi, pengguna akan menerima notifikasi seperti: “Waspada, pesan ini bisa mengarah pada penipuan.”

Meta Tutup Jutaan Akun Penipu

Dalam laporan resmi sepanjang paruh pertama tahun 2025, Meta mengungkapkan telah menonaktifkan lebih dari 8 juta akun yang terbukti terlibat dalam praktik penipuan lintas negara.

Sebagian besar akun tersebut beroperasi dari Asia Tenggara, termasuk Myanmar, Laos, dan Filipina.

Tidak hanya itu, perusahaan juga menghapus lebih dari 20 ribu halaman Facebook palsu yang meniru identitas lembaga resmi dengan tujuan mencuri data pengguna.

Kategori :

Terpopuler