Deretan Motor Bebek yang Disuntik Mati di Indonesia, Dulu Pernah Merajai Jalan di Indonesia

Minggu 30-11-2025,19:04 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Pasar motor bebek di Indonesia tampaknya semakin kehilangan taring. Dalam beberapa tahun terakhir, peminat motor bebek terus menurun hingga akhirnya memaksa banyak pabrikan menghentikan produksi sejumlah model legendaris.

Pergeseran besar ini terjadi karena konsumen kini jauh lebih memilih motor matik yang dianggap lebih praktis, nyaman, dan mudah dikendarai.

Dominasi skutik seperti Honda Beat, Scoopy, Yamaha Mio, dan Fazzio membuat motor bebek semakin tidak kompetitif.

Alhasil, model-model yang dulu sempat berjaya kini resmi disuntik mati dan hanya tersisa di pasar motor bekas.

Berikut daftar motor bebek yang sudah berhenti diproduksi, lengkap dengan informasi singkat dan kisaran harga bekasnya di pasaran.

1. Honda Blade X 125 — Resmi Berhenti Produksi Sejak 2018

BACA JUGA:Hyundai Dorong Ekosistem Hidrogen Lewat Teknologi PEM dan Fuel Cell di APEC 2025

Honda Blade X 125 pertama kali hadir sebagai motor bebek sporty untuk menemani Supra X. Berbekal mesin 125 cc, Blade menjadi pilihan bagi pengguna yang menginginkan tampilan agresif dengan harga terjangkau.

Namun, penurunan permintaan motor bebek membuat Honda akhirnya menghentikan Blade pada 2018, setelah mengaspal selama 10 tahun.

Kini Honda lebih fokus mengembangkan skutik, terutama Beat, Vario, hingga Scoopy, yang penjualannya jauh lebih stabil.

Harga bekas Honda Blade X 125: mulai Rp 7,6 juta untuk produksi tahun 2016 di marketplace motor bekas.

2. Honda Revo AT — Bebek Matik (Betik) yang Gagal di Pasaran

Honda sempat membuat gebrakan dengan meluncurkan Honda Revo AT pada 2010. Konsepnya cukup unik: motor bebek dengan transmisi otomatis seperti skutik.

Namun, eksperimen ini kurang diterima masyarakat. Banyak konsumen merasa konsep "betik" tidak jelas posisinya—tidak sesimpel skutik dan tidak seirit bebek biasa.

Akibat penjualan yang tidak memuaskan, Revo AT disuntik mati hanya tiga tahun kemudian, pada 2013.

Harga bekas Honda Revo AT: berkisar Rp 5,8 juta – Rp 10 juta, bergantung kondisi dan kelengkapan.

3. Honda Kirana — Usia Pendek, Kini Banyak Dicari Kolektor

Honda Kirana hadir pada 2002 sebagai alternatif Supra X 110. Desainnya unik dan cukup futuristis untuk ukuran zamannya. Namun, persaingan ketat membuatnya tidak mampu mencuri pasar dari Supra Series yang sudah terlalu kuat.

Honda Kirana hanya bertahan dua tahun, sebelum dihentikan pada 2004.

Menariknya, Kirana kini banyak beredar dalam kondisi restorasi di pasar motor bekas. Hal ini membuat harganya cenderung lebih tinggi, terutama bagi kolektor motor lawas.

Harga bekas Honda Kirana: kisaran Rp 7,9 juta – Rp 15 juta untuk unit produksi tahun 2003.

4. Suzuki Smash — Si Irit yang Akhirnya Tumbang pada 2021

BACA JUGA:Volkswagen ID. BUZZ Sambangi Jakarta, Rainer Kagumi Energi dan Keramahan Ibu Kota

Suzuki Smash sempat menjadi primadona berkat konsumsi bahan bakarnya yang terkenal irit. Pertama meluncur pada 2002, Smash menjadi salah satu motor bebek paling laris Suzuki.

Namun, karena minim pembaruan dan pasar bebek yang terus menurun, Suzuki akhirnya menghentikan Smash pada 2021. Smash menjadi salah satu bebek terakhir Suzuki sebelum beralih fokus ke model skutik.

Harga bekas Suzuki Smash FI: mulai Rp 7 juta untuk tahun produksi 2018.

5. Yamaha Jupiter MX 135 — Bebek Sport Fenomenal

Yamaha Jupiter MX 135 adalah salah satu motor bebek sport paling ikonik di Indonesia. Tenaganya yang besar untuk kelas bebek membuat motor ini digemari banyak kalangan, terutama anak muda pada awal 2010-an.

Namun, Jupiter MX 135 resmi berhenti produksi pada 2015, digantikan oleh generasi lebih modern seperti MX 150 dan MX King 150.

Hingga kini, peminatnya masih cukup banyak di pasar motor bekas karena dianggap memiliki karakter kuat dan performa bertenaga.

Harga bekas Jupiter MX 135: berkisar Rp 3,8 juta – Rp 8 juta, tergantung kondisi mesin dan tahun produksi.

Pasar Motor Bebek Semakin Mengecil: Apa Penyebabnya?

Penurunan motor bebek bukan terjadi secara tiba-tiba. Setidaknya ada beberapa faktor yang membuat pasar ini merosot:

  1. Praktisnya motor matik — tidak perlu oper gigi, cocok untuk penggunaan harian.

  2. Kemacetan kota besar — matik lebih nyaman saat stop-and-go.

  3. Desain skutik lebih modern dan cocok untuk berbagai segmen usia.

  4. Fokus pabrikan bergeser ke skutik, sehingga bebek makin minim inovasi.

Motor bebek kini lebih banyak bertahan pada segmen tertentu, seperti pedesaan, kurir, atau pengguna yang mengutamakan keiritan.

Kategori :