Status Gunung Semeru Turun Menjadi Level III Siaga, Aktivitas Vulkanik Mulai Menurun

Minggu 30-11-2025,11:38 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Setelah sempat berada pada Level IV (Awas) pasca peningkatan aktivitas pada November 2025, kini status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu resmi diturunkan menjadi Level III (Siaga).

Pengumuman ini disampaikan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, pada Jumat (29/11/2025) pukul 09.00 WIB dan dikutip kembali oleh Antara pada Minggu (30/11/2025).

“Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, terhitung mulai 29 November 2025 pukul 09.00 WIB, tingkat aktivitas Gunung Semeru diturunkan dari Level Awas menjadi Siaga,” ujar Lana.

Penurunan status ini membawa harapan baru bagi warga sekitar, meski tetap harus dibarengi dengan kewaspadaan ekstra mengingat ancaman guguran dan lahar masih mungkin terjadi.BACA JUGA:Deretan Motor Bebek yang Disuntik Mati di Indonesia, Dulu Pernah Merajai Jalan di Indonesia

Menurut Badan Geologi, evaluasi data pemantauan setelah erupsi 19 November 2025 menunjukkan tidak adanya indikasi suplai magma baru dari kedalaman. Hal ini menjadi salah satu faktor utama turunnya status Semeru.

Secara visual, aktivitas Semeru masih berlangsung, namun skalanya tergolong lebih kecil dan stabil.

Aktivitas visual yang teramati:

  • Letusan berulang skala kecil–menengah

  • Kolom asap putih–kelabu setinggi 300–1.000 meter

  • Guguran lava sejauh 800–1.000 meter mengarah ke Besuk Kobokan

Meski masih terjadi letusan kecil, pola ini tidak mencerminkan penguatan suplai magma. Ini juga diperkuat oleh catatan kegempaan yang relatif rendah.

“Parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) sempat turun sebelum kejadian awan panas 19 November, namun kini kembali stabil. Ini menandakan sistem vulkanik sedang dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi,” jelas Lana.

Tidak Ada Anomali Signifikan, Aktivitas Didominasi Proses Permukaan

Berdasarkan pemantauan seismik, deformasi, dan visual, Badan Geologi menyimpulkan bahwa fenomena yang terjadi saat ini bukan dipicu oleh tekanan magmatik dari kedalaman.

“Aktivitas saat ini didominasi oleh proses permukaan seperti akumulasi material, ketidakstabilan lereng, dan pelepasan gas dangkal,” jelas Lana

Dengan kata lain, ancaman terbesar dalam waktu dekat bukan dari erupsi eksplosif, melainkan awan panas guguran dan potensi lahar, terutama di musim penghujan.

Bukti Intrusi Baru Tidak Ditemukan

Data kegempaan dan deformasi yang dianalisis Badan Geologi menunjukkan tidak adanya intrusi magmatik baru. Artinya, tidak ada magma segar yang mencoba naik ke permukaan.

Meski demikian, kondisi ini bukan berarti Semeru sepenuhnya aman.

“Ancaman utama saat ini berupa awan panas guguran dan potensi lahar mengikuti peningkatan intensitas hujan,” kata Lana.

Dengan kondisi tersebut, status Level III (Siaga) dinilai paling sesuai untuk situasi terbaru.

Zona Bahaya

Penurunan status bukan berarti masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa di sekitar Semeru. Badan Geologi tetap menetapkan sejumlah zona terlarang yang wajib dipatuhi.

BACA JUGA:Riyadh Season 2025–2026 Hadir dengan Wajah Baru: Transformasi Hiburan Enam Bulan di Ibu Kota Saudi

Rekomendasi keselamatan terbaru:

  • Dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 km dari puncak.

  • Dilarang mendekati radius 5 km dari kawah/puncak Semeru karena rawan lontaran batu pijar.

  • Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta waspada potensi banjir lahar dingin saat hujan lebat.

“Gunung Semeru berstatus Siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak,” tegas Lana.

 

Walau status telah turun ke Level III, namun Semeru tetap berpotensi menimbulkan bahaya sewaktu-waktu. Terlebih di musim penghujan, material vulkanik di puncak bisa terseret aliran air dan memicu lahar dingin.

Kategori :