JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (PB IMSU) menyelenggarakan seminar budaya ulos dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bertema “Merajut Warisan, Menenun Peradaban di Era Kecerdasan Buatan.”
Kegiatan ini berlangsung di Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan dihadiri mahasiswa serta perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Seminar budaya ulos ini menjadi ruang diskusi bagi generasi muda untuk membahas pelestarian ulos Batak di era teknologi digital, sekaligus menggali potensi pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pelestarian budaya lokal.
Ketua Umum PB IMSU, Lingga Pangayumi Nasution, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen mahasiswa dalam menjaga identitas budaya di tengah perkembangan teknologi modern yang semakin pesat.
Menurutnya, ulos Batak bukan sekadar kain tradisional, melainkan simbol identitas, nilai sosial, dan filosofi kehidupan masyarakat Sumatera Utara.
BACA JUGA:Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadan: Waktu Terbaik Meraih Lailatul Qadar dan Ampunan Allah
“Seminar ini menjadi bentuk kepedulian generasi muda terhadap pelestarian warisan budaya bangsa. Ulos memiliki makna filosofis yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu mampu mengintegrasikan nilai budaya dengan perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence agar budaya tetap relevan dan berkembang di masa depan,” ujar Lingga Pangayumi Nasution.
Narasumber Bahas Diplomasi Budaya dan Teknologi AI
Seminar budaya ulos dan AI ini menghadirkan dua narasumber, yakni Lydia Tri Putri Sibarani selaku Kasubbid Pelayanan dan Pembinaan Masyarakat Badan Penghubung Provinsi Sumatera Utara serta Arjun Munthe yang merupakan Ketua Bidang di Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI).
Dalam pemaparannya, Lydia Tri Putri Sibarani menekankan pentingnya diplomasi budaya ulos melalui teknologi digital agar kain tradisional khas Batak ini semakin dikenal di tingkat internasional.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong digitalisasi dokumentasi motif ulos sebagai bagian dari upaya melindungi kekayaan budaya sekaligus mengantisipasi penyalahgunaan teknologi.
“Ulos adalah simbol identitas masyarakat Batak yang sarat dengan nilai budaya. Di era kecerdasan buatan, pemerintah mendorong digitalisasi arsip, dokumentasi motif ulos, serta perlindungan kekayaan intelektual agar warisan budaya ini tidak disalahgunakan atau diproduksi tanpa etika melalui teknologi AI,” jelas Lydia Tri Putri Sibarani.
Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan generasi muda menjadi kunci utama dalam memperkuat ekosistem pelestarian budaya berbasis teknologi.
BACA JUGA:Honda NWF150 Resmi Meluncur, Skutik Retro Modern Bergaya Eropa yang Bikin Anak Muda Kepincut
“Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung penuh inovasi generasi muda dalam melestarikan budaya. Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar ulos tidak hanya lestari, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Mahasiswa Didorong Kembangkan Inovasi Ulos Digital
Sementara itu, Arjun Munthe menyoroti peran penting mahasiswa sebagai agen perubahan dalam menjaga nilai budaya sekaligus memanfaatkan teknologi modern.