Menurut Hariyadi, pendekatan berbasis riset dan data menjadi kunci dalam membangun sistem rantai pasok yang kuat.
“Penguatan rantai pasok kelapa memerlukan pendekatan berbasis data, riset, dan kemitraan yang setara. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan kerangka ilmiah untuk mendukung kebijakan dan praktik di lapangan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan A. Faroby Falatehan yang menilai kolaborasi antara akademisi dan industri dapat mempercepat hilirisasi berbasis riset.
“Kolaborasi IPB dan Sasa merupakan contoh kemitraan akademisi–industri yang dapat memperkuat daya saing komoditas kelapa sekaligus mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Dorong Akses Pendanaan Petani
Sejak komoditas kelapa masuk dalam cakupan pendanaan BPDP pada 2024, Sasa juga berperan sebagai fasilitator untuk membuka akses pembiayaan bagi petani binaannya.
Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga keberlanjutan rantai pasok kelapa nasional dalam jangka panjang.