JAKARTA, Semaraknews.co.id — Menjadi menteri ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengaku baru benar-benar memahami beratnya jabatan itu setelah duduk di kursi kementerian. Hampir setiap hari, kata dia, selalu ada persoalan baru yang menunggu untuk diselesaikan.
Pengakuan tersebut disampaikan Brian saat memberikan pembekalan kepada penerima Beasiswa Garuda dan para kepala Sekolah Garuda Transformasi di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Juli 2026.
Di hadapan peserta, Brian bercerita bahwa rutinitas paginya kini nyaris selalu diawali dengan kejutan yang tidak menyenangkan. Begitu membuka WhatsApp, persoalan baru sudah menunggu.
“Saya baru tahu ternyata setiap hari ada masalah baru. Bangun pagi buka WhatsApp, ‘ih, apa lagi ini?’, ada masalah baru,” ujar Brian.
Pengalaman itu mengingatkannya pada serial televisi Designated Survivor yang dulu pernah ia tonton. Saat itu ia menganggap cerita tentang Presiden Amerika Serikat yang terus-menerus diterpa krisis terasa berlebihan. Namun setelah dirinya menjadi menteri, pandangannya berubah.
BACA JUGA:Psikologi Sukses Muslim: Gabung Kerja Keras dengan 6 Amalan Ini, Insyaallah Lancar Semua
“Saya menonton film itu, lalu saya bilang, ‘kok orang ini setiap hari masalahnya beda-beda terus’. Ternyata setelah saya jadi menteri, memang benar seperti itu,” katanya.
Saking beratnya tekanan yang dirasakan, Brian bahkan sempat melontarkan gurauan kepada para peserta agar jangan menjadikan kursi menteri sebagai cita-cita hidup.
“Sudahlah, pokoknya jangan punya cita-cita jadi menteri. Kalau memang diminta dan kebetulan tidak ada pilihan, ya dijalankan. Tapi jangan dijadikan cita-cita. Yang paling enak itu jadi peneliti,” ujar Brian yang langsung disambut gelak tawa peserta.
Meski mengaku kerap diterpa persoalan, Brian mengatakan pengalaman itu justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan yang lebih besar. Menurut dia, kehidupan sebagai peneliti maupun masa kuliahnya juga dipenuhi berbagai rintangan sehingga ia sudah terbiasa menghadapi tekanan.
Pelajaran itulah yang ingin ia wariskan kepada para penerima Beasiswa Garuda. Brian mengingatkan agar mereka tidak menganggap lolos beasiswa sebagai garis akhir perjuangan. Justru, kata dia, tantangan yang lebih berat baru akan dimulai ketika menempuh pendidikan di kampus-kampus terbaik dunia.
Ia pun meminta para mahasiswa membangun karakter tekun, gigih, memiliki daya juang yang kuat, sekaligus tetap rendah hati. Menurut Brian, empat karakter tersebut menjadi bekal utama agar mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan, baik selama menjalani pendidikan maupun ketika kembali mengabdi di Indonesia.
“Semakin berat perjalanan Anda, semakin luas cakrawala pengalaman yang Anda dapatkan. Kegagalan terkadang merupakan proses untuk melatih Anda agar lebih siap menghadapi tantangan berikutnya,” tuturnya.