JAKARTA, Semaraknews.co.id — Perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU mulai memasuki fase yang makin menarik. Wakil Presiden ke-13 sekaligus Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengingatkan, calon pemimpin NU ke depan tidak cukup hanya punya banyak pendukung. Ia harus punya kemampuan mendamaikan kelompok yang berseteru.
Ma’ruf menyebut ada dua kemampuan penting yang harus dimiliki calon ketua umum PBNU. Yang pertama adalah kemampuan melakukan ishlah atau mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa. Menurutnya, persatuan menjadi syarat penting agar organisasi dapat menjalankan misinya.
“Ya tadi, harus punya kemampuan melakukan dua hal, al-ishlah wal-ishlah. Ishlah pertama itu mendamaikan semua kelompok yang bersengketa, karena tanpa persatuan tidak mungkin,” kata Ma’ruf seusai menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kriteria kedua tak kalah penting. Pemimpin NU mendatang diminta mampu menaruh kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab, menurut Ma’ruf, misi besar NU akan sulit dijalankan jika kepentingan internal lebih sibuk berebut ruang.
“Dan harus mendahulukan kepentingan organisasi, kepentingan pribadi maupun kelompok. Itu, baru misi NU bisa diemban,” ujarnya.
BACA JUGA:Hanura Tak Mau Lagi Main Santai, Pengurus Daerah Lamban Siap Disikat Jelang Pemilu 2029
Ma’ruf juga mengingatkan agar ketua umum berikutnya tidak sekadar membawa NU menjadi organisasi dengan jumlah anggota besar, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas warga dan kehidupan berorganisasi.
Ia berharap kepemimpinan baru dapat mengembalikan NU pada khittah organisasi sebagaimana prinsip yang tertuang dalam qanun asasi. Menurut dia, menjadi bagian dari NU semestinya berangkat dari pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan atau terseret dorongan kelompok tertentu.
“Supaya ber-NU itu lebih pada kualitas. Ya, artinya pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan karena dorongan. Saya menyebutnya ala bashirah, bukan ala bisharah. Ya, nah itu,” tutur Ma’ruf.
Ketika ditanya siapa kandidat yang paling sesuai dengan kriteria tersebut, Ma’ruf memilih tidak menunjuk nama tertentu. Ia mengatakan kemampuan masing-masing kandidat harus dilihat terlebih dahulu.
“Nama itu, itu kita tidak bisa, kita lihat kemampuannya,” katanya.
Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi arena pemilihan Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya.
BACA JUGA:Pilkada Mau Dipisah, Hanura Khawatir Kepala Daerah dan Wakil Sama-Sama Merasa Jadi Bos
Sejumlah nama telah muncul dalam bursa kandidat. Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar, keponakan Ma’ruf Amin Zulfa Mustofa, hingga Ketua Umum PBNU petahana Yahya Cholil Staquf sebagai sejumlah nama yang digadang-gadang maju.
Selain nama-nama tersebut, Gus Ipul juga menyebut Kiai Zulfa Mustofa, Gus Yusuf Chudlori, Gus Salam Shohib, serta Gus Kikin yang merupakan Ketua PWNU Jawa Timur sebagai kandidat yang turut diperbincangkan.