JAKARTA, Semaraknews.co.id — Dua tenda berwarna biru dan oranye berdiri di ruang terbuka Kampung Nara, Dusun Wancang, Desa Ladur, Kecamatan Cibal, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 22 Agustus 2026. Alih-alih menjadi tempat berlindung yang layak setelah gempa, kedua tenda itu justru sudah berlubang di sana-sini.
“Terpalnya tidak layak ditingali,” kata Siprianus Done, warga Kampung Nara, Dusun Wancang, Desa Ladur, Kecamatan Cibal, Manggarai, NTT, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Pria berusia 53 tahun itu mengaku sudah sepekan tinggal di tenda darurat bersama keluarganya setelah gempa mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Terpal yang digunakan sudah lusuh dan robek di berbagai bagian. Untuk alas tidur, warga terpaksa menggunakan karung.
Situasinya makin tidak manusiawi ketika malam datang. Lansia, perempuan hamil hingga balita harus menahan dingin di dalam tenda seadanya. Maklum, Kampung Nara berada di kawasan perbukitan. Kalau alam sudah dingin, terpal bolong tentu bukan lawan yang sepadan.
“Soalnya di perbukitan,” ujar Siprianus.
Rumah-rumah di sekitar halaman terbuka tersebut juga mengalami kerusakan berat akibat gempa bermagnitudo 7,7. Kondisinya semakin parah setelah gempa susulan bermagnitudo 5,6 mengguncang Manggarai pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Warga pun belum berani kembali ke rumah. Mereka memilih bertahan di tenda darurat meski harus menerima kondisi yang serba kekurangan. Rumah rusak, tenda bocor, tidur beralaskan karung. Lengkap sudah paket penderitaan pascabencana.
“Banyak debu. Kami khawatir terkena penyakit,” kata Siprianus.
Siprianus mengatakan sebanyak 55 kepala keluarga di Kampung Nara hingga kini belum memperoleh bantuan pemerintah. Kondisi geografis menjadi salah satu persoalan. Jalan menuju kampung menanjak dan berbatu, sementara ketiadaan jaringan internet membuat warga kesulitan menghubungi pihak yang bisa memberikan pertolongan.
Kebutuhan mereka sebenarnya sederhana, bahkan sangat dasar. Warga membutuhkan tenda darurat yang lebih layak, sembako, susu, obat-obatan, air bersih hingga air minum. Namun setelah lebih dari sepekan hidup dalam situasi darurat, bantuan yang dinanti belum juga datang.
“Warga sudah lelah karena tak ada bantuan,” ujar Siprianus.
Di tengah kondisi warga yang masih bertahan dengan tenda seadanya, jumlah korban gempa NTT justru terus bertambah. Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah pengungsi telah mencapai 110.785 jiwa.
Bukan cuma pengungsi yang bertambah. Jumlah korban meninggal dunia juga telah mencapai 83 orang. Sementara korban luka bertambah 79 orang, dari sebelumnya 907 orang menjadi 986 orang.
Angka-angka tersebut tentu bisa dibaca dalam laporan resmi dan tabel statistik. Namun bagi warga Kampung Nara, angka 110.785 pengungsi berarti ada ratusan ribu manusia yang kehilangan kenyamanan rumah. Bagi 83 keluarga, angka kematian berarti ada kursi makan yang mendadak kosong. Dan bagi 55 kepala keluarga di Kampung Nara, status tanggap darurat tidak akan banyak berarti kalau yang datang ke kampung mereka hanya angin malam yang masuk lewat terpal sobek.