JAKARTA, Semaraknews.co.id — Menjelang Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ke-35 di Jombang, Jawa Timur, suasana pesantren mendadak ramai oleh para kandidat Ketua Umum PBNU. Satu per satu mereka sowan, menyampaikan visi, meminta restu, atau sekadar memastikan pintu silaturahmi belum ditutup. Dalam politik NU, jalan menuju kursi ketua umum memang kadang melewati ruang tamu pesantren lebih dulu.
Yahya Cholil Staquf, petahana yang kembali mencalonkan diri, misalnya, menyambangi Pondok Pesantren Salafiyah di Kota Pasuruan pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Kunjungannya bertepatan dengan haul ke-45 Abdul Hamid, pengasuh utama pesantren tersebut.
Ratusan santri dan warga Pasuruan yang mengenakan pakaian putih sudah memenuhi lapangan pesantren ketika Yahya tiba. Ia kemudian bertemu Idris Hamid, putra mendiang Abdul Hamid, di kantor pesantren. Pertemuan itu tidak berlangsung sekadar salaman dan basa-basi. Yahya bersama Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Usni dan Katib Syuriah PBNU Nurul Yaqin Ishaq berbincang tertutup dengan Idris selama sekitar 15 menit.
Begitu keluar dari ruangan, Yahya langsung menyampaikan versi dirinya mengenai hasil pertemuan tersebut. Kepada wartawan yang mengikuti perjalanannya dari Jakarta, ia mengatakan dukungan dari Idris sudah berada di kantong.
“Katanya menang, menang, dan menang karena beliau mendukung saya sejak awal,” ujar Yahya.
Masalahnya, Idris sendiri belum pernah secara terang-terangan menyatakan dukungan kepada kandidat tertentu. Dalam ceramah pada acara haul tersebut, ia justru mengaku para santri dan jemaahnya ramai bertanya siapa yang bakal keluar sebagai pemenang Muktamar Jombang.
“Saya bukan dukun dan calonnya belum putus,” tutur Idris.
BACA JUGA:Ikan Kiamat Muncul di Lombok Usai Gempa NTT, Pertanda Bencana atau Cuma Mitos?
Pesantren Salafiyah sendiri memiliki sekitar 2.000 santri. Yahya tentu punya alasan untuk membaca pertemuan dengan Idris sebagai sinyal positif. Ia bahkan mengatakan sejumlah pengurus pesantren lain telah datang kepadanya untuk meminta izin mendoakan pencalonannya. Kakak mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu mengklaim pengurus pesantren dari Lampung dan Aceh juga telah menggelar istigasah menjelang muktamar.
Sowan kemudian tidak berhenti pada urusan meminta restu. Yahya juga memanfaatkan pertemuan dengan para ulama untuk menjelaskan mekanisme Muktamar PBNU yang masih mungkin berubah. Salah satu yang menjadi pembicaraan adalah kemungkinan pemilihan ketua umum tidak dilakukan langsung oleh muktamirin, melainkan melalui dewan formatur atau ahlul halli wal aqdi.
Yahya tampaknya cukup percaya diri dengan rekam jejak lima tahun terakhir. Ia merasa tak perlu terlalu banyak menjual diri kepada para pemilik suara.
“Pekerjaan kami selama lima tahun sudah dirasakan sehingga tak perlu capek-capek meyakinkan orang,” kata Yahya.
Dari Pasuruan, safari berlanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri. Pesantren ini termasuk salah satu pesantren dengan jumlah santri terbesar di Indonesia. Sejumlah catatan menyebut jumlah santrinya lebih dari 40 ribu orang dengan sedikitnya 3.000 pengasuh.
Pengasuh Pesantren Lirboyo Abdul Muid Shohib mengatakan Yahya bukan satu-satunya kandidat yang pernah datang. Sebelum dan sesudahnya, sejumlah nama lain juga telah sowan. Ada Menteri Agama Nasaruddin Umar, Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin dari Pondok Pesantren Tebuireng, Muhammad Yusuf Chudlori yang pernah memimpin Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah, serta Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Abdul Ghaffar Rozin.
Nasaruddin kemudian menyatakan mundur dari bursa pencalonan karena memilih fokus memimpin Kementerian Agama.