Aktivitas Anak Krakatau Menurun Hari ini, Mengapa Erupsi Susulan Masih Bisa Terjadi?

Selasa 08-09-2026,14:59 WIB
Reporter : Tyo Sulistio
Editor : Tyo Sulistio

SEMARAKNEWS.CO.ID - Aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau dilaporkan menurun dibandingkan periode erupsi menerus pada 4 dan 5 September 2026. Meski demikian, PVMBG menegaskan aktivitas vulkanik belum berhenti sehingga erupsi susulan masih mungkin terjadi.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Siti Sumilah Rita Susilawati, mengatakan letusan terbaru termasuk erupsi eksplosif berenergi rendah. Durasi letusan hanya berlangsung beberapa detik, berbeda dari erupsi menerus yang terjadi pada awal September.

BACA JUGA:IKN Jangan Sampai Ikut Terbakar! Prabowo Wanti-wanti Api Hutan Merembet ke Zona Inti

Setelah erupsi menerus berakhir, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami enam erupsi pendek pada 6 dan 8 September. Menurut Rita, pola tersebut menunjukkan gunung telah kembali pada karakter erupsi normal Krakatau yang berlangsung singkat dan muncul sesekali.

Pada Selasa, 8 September 2026, tiga erupsi pendek tercatat pada pukul 05.08 WIB, 05.34 WIB, dan 07.49 WIB. Rangkaian itu menjadi indikator bahwa aktivitas kegempaan dan aktivitas vulkanik masih harus dipantau secara ketat.

PVMBG menjelaskan suplai magma dan gas masih berlangsung di dalam Gunung Anak Krakatau. Karena itu, penurunan aktivitas kegempaan tidak dapat dimaknai sebagai berakhirnya potensi letusan. Erupsi susulan tetap mungkin terjadi dalam perkembangan berikutnya.

Erupsi kembali tercatat pada pukul 11.34 WIB di hari yang sama. Peristiwa tersebut berlangsung selama 17 detik dan terekam seismograf dengan amplitudo maksimum yang dilaporkan mencapai 50 milimeter. Tinggi kolom erupsi tidak teramati.

BACA JUGA:Letusan Krakatau 1883 Mengubah Langit Dunia, Hingga Bikin Matahari Merah dan Bulan Biru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Informasi resmi PVMBG menjadi rujukan utama dalam memantau kondisi terbaru Gunung Anak Krakatau.

Rita menegaskan perubahan pola letusan perlu dibaca bersama dengan data pemantauan. Erupsi pendek memang menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dibanding erupsi menerus, tetapi keberadaan suplai magma dan gas membuat kewaspadaan tetap diperlukan.

Masyarakat juga perlu memperhatikan batas aman yang telah ditetapkan. Larangan beraktivitas dalam radius 3 kilometer berlaku karena status gunung masih Level III. Data seismograf dan informasi PVMBG menjadi dasar untuk mengikuti perkembangan erupsi Anak Krakatau.

BACA JUGA:Menteri Keuangan Purbaya Siap Tambah Anggaran Bencana, BNPB Disebut Pegang Dana Hampir Rp1 T

Pemantauan berkala tetap penting karena karakter erupsi dapat berubah. Warga di sekitar kawasan diminta tidak mendekati kawah aktif dan mengikuti arahan resmi petugas selama status siaga masih berlaku.

Kategori :