Beton Biasa Takut Gempa, Mahasiswa UMY Ciptakan Material Bambu Tahan Guncangan

Rabu 09-09-2026,13:00 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, SemarakNews.co.id -- Gempa tidak hanya menguji nyali manusia, tetapi juga menguji apakah bangunan yang berdiri kokoh itu benar-benar kuat atau cuma tampak gagah sebelum roboh. Melihat persoalan itu, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencoba mencari jalan keluar dengan menciptakan material konstruksi alternatif yang lebih tahan terhadap guncangan.

Tim mahasiswa UMY mengembangkan material komposit yang menggabungkan Engineered Cementitious Composite (ECC) M45 dengan serat bambu yang telah dilapisi polyvinyl alcohol (PVA). Mereka mencoba mengawinkan teknologi material modern dengan bahan lokal yang selama ini sering dianggap sebelah mata.

"Keterbatasan daktilitas pada beton konvensional menjadi alasan utama kami menciptakan material komposit baru ini," kata ketua tim penelitian, Nadiya Putri Syahimah, Rabu, 9 September 2026.

Dalam bahasa sederhana, beton konvensional punya kelemahan ketika menerima tekanan besar. Ia memang kuat menahan beban, tetapi ketika sudah melewati batas kemampuan, material tersebut cenderung langsung retak dan kehilangan fungsi. Padahal dalam situasi gempa, bangunan membutuhkan kemampuan untuk bergoyang dan berubah bentuk tanpa langsung runtuh.

Nadiya menjelaskan, daktilitas tinggi menjadi salah satu kunci dalam membangun struktur tahan gempa. Material dengan kemampuan tersebut dapat mengalami deformasi lebih besar sebelum mencapai titik kegagalan. Dengan begitu, bangunan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan ketika dihantam guncangan.

BACA JUGA:Kontroversi Perkataan Ulta Viral soal Enam Gunung, Berikut Profil dan Latar Belakang Anak Buah Prabowo

Melalui penelitian yang mendapat pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026, Nadiya bersama timnya memilih ECC M45 sebagai matriks komposit karena memiliki karakteristik mekanis yang sesuai untuk kebutuhan konstruksi tahan gempa.

"Sementara bambu kami manfaatkan sebagai penguat berbasis bahan lokal yang kuat dan berkelanjutan," kata Nadiya bersama anggota timnya Aulia Haris Fauzan, Egas Fairuz Rasyid, Alya Ramadhani, dan Afra Nur Faliza.

Inovasi utama penelitian ini terletak pada proses enkapsulasi atau pelapisan serat bambu menggunakan cairan PVA sebelum dicampurkan ke dalam ECC M45. Lapisan tersebut dibuat untuk memperkuat ikatan antara serat bambu dan matriks material sehingga daya tahannya meningkat.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, serat bambu yang telah dilapisi PVA menunjukkan performa lebih baik dalam kemampuan menahan gaya lentur maupun tekanan. Bambu yang selama ini identik dengan bangunan sederhana ternyata punya peluang masuk ke arena teknologi konstruksi modern.

Penggunaan bambu juga sejalan dengan tren riset material berkelanjutan. Studi mengenai kolom beton bertulang bambu pada rumah sederhana di Indonesia sebelumnya mencatat rasio simpangan atau drift ratio mencapai 3,34 persen. Angka tersebut menunjukkan bambu yang diolah dengan teknologi tepat bisa menjadi alternatif material untuk menghadapi beban gempa.

Namun perjalanan riset itu tidak berjalan mulus. Nadiya mengakui timnya sempat menghadapi kendala teknis saat proses pengujian berlangsung. Kerusakan alat uji tekan dan timbangan laboratorium membuat proses pengujian kuat tekan, kuat lentur, hingga pengolahan data mengalami keterlambatan.

"Walaupun akhirnya seluruh tahapan dapat diselesaikan," kata Nadiya.

BACA JUGA:Persija vs Persib Jadi Pertemuan ke-170, Mengapa Venue Masih Belum Pasti? Gegara Hal ini

Hasil penelitian menunjukkan material ECC berbasis serat bambu ini memiliki potensi untuk digunakan dalam pembangunan gedung baru maupun sebagai material perkuatan atau retrofit bagi bangunan lama di kawasan rawan gempa.

Meski begitu, tim peneliti tidak buru-buru mengklaim temuannya sebagai solusi final. Mereka menyebut riset tersebut masih tahap awal dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut.

"Khususnya untuk pengujian variasi ukuran, panjang, serta diameter serat bambu untuk mengoptimalkan kinerja mekanisnya," ujar Nadiya.

Dosen pembimbing penelitian, Martyana Dwi Cahyati, mengatakan gempa bukan hanya soal kesiapan manusia menghadapi bencana. Yang lebih sering dilupakan adalah kemampuan bangunan dalam bertahan ketika bumi mulai berguncang.

"Ketika struktur bangunan tidak mampu mengakomodasi deformasi atau perubahan bentuk, kerusakan hingga keruntuhan dapat terjadi dan meningkatkan risiko jatuhnya korban jiwa," kata Martyana.

Ia mencontohkan gempa bumi Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah pada 27 Mei 2006. Gempa bermagnitudo 5,9 tersebut menyebabkan kerusakan bangunan secara besar-besaran dan menewaskan ribuan orang, dengan banyak korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa bangunan tidak cukup hanya dibuat kuat berdiri. Struktur juga harus memiliki kemampuan bertahan ketika mendapat tekanan ekstrem.

"Selain kekuatan struktur, kemampuan material untuk mengalami deformasi dan menyerap energi juga menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko keruntuhan," ujarnya.

Martyana berharap penelitian mahasiswa UMY tersebut tidak berhenti sebagai prestasi di ajang program kreativitas mahasiswa. Ia ingin inovasi itu menjadi pijakan untuk mengembangkan material konstruksi yang lebih cocok digunakan di wilayah rawan gempa.

Sebab ketika alam mulai mengamuk, manusia tidak bisa memerintah bumi untuk berhenti bergerak. Yang bisa dilakukan hanyalah memastikan bangunan tidak ikut menyerah lebih dulu.

Kategori :