Papua Berdarah Lagi, PGI Murka! Sembilan Perempuan Disandera, Tiga ASN Ditembak

Sabtu 12-09-2026,13:47 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam kekerasan terhadap warga sipil di Papua yang kembali menambah panjang daftar luka di tanah yang seolah tak pernah kehabisan alasan untuk berkonflik. Kasus penculikan sembilan perempuan di Papua Tengah dan penembakan tiga ASN di Jayawijaya membuat PGI mendesak seluruh pihak yang bertikai segera menghentikan kekerasan serta membuka ruang dialog kemanusiaan.

Kepala Biro Papua PGI Ronald Rischard Tapilatu menyampaikan sikap tersebut dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 12 September 2026. Menurutnya, konflik bersenjata tidak boleh menjadikan warga sipil sebagai sasaran, apalagi perempuan, anak-anak, pekerja publik, dan mereka yang menjalankan tugas kemanusiaan.

“Dengan alasan apa pun, penangkapan sewenang-wenang, penyanderaan, penyiksaan, dan pembunuhan warga sipil tidak bersalah merupakan tindakan tidak manusiawi,” ujar Ronald.

Pernyataan PGI itu muncul setelah dua insiden berdarah di Papua. Pada Agustus 2026, sembilan perempuan dilaporkan disandera di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Sebulan kemudian, tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas ditembak di Distrik Muliama pada 9 September 2026.

PGI menilai kekerasan dan aksi pembalasan tidak akan menyembuhkan luka Papua. Sebaliknya, tindakan tersebut justru berpotensi memperpanjang ketakutan, kehilangan, dan ketidakpercayaan di tengah masyarakat.

Karena itu, penyelesaian persoalan Papua dinilai harus berpijak pada penghormatan terhadap hak asasi manusia serta keberpihakan terhadap kehidupan. Dialog kemanusiaan perlu segera dibuka untuk memutus rantai konflik, membangun kembali kepercayaan, dan mencari jalan damai yang bermartabat.

BACA JUGA:200 Juta Rekening Dibuka, Warga Dapat Saldo Rp50 Ribu, Ekonom Sentil Pemerintah Jangan Cuma Kejar Angka!

“Papua tidak membutuhkan lebih banyak kuburan. Papua membutuhkan keberanian untuk menghentikan kekerasan, memulihkan mereka yang terluka, melindungi kehidupan, dan membangun perdamaian,” tutur Ronald.

Sembilan Perempuan, Termasuk Anak Sekolah, Dilaporkan Disandera

Peristiwa penyanderaan sembilan perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dilaporkan terjadi pada Agustus 2026. Para perempuan yang disebut menjadi korban terdiri atas warga sipil, remaja, dan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Mereka antara lain Nemerina Wamang, 17 tahun, yang dilaporkan sedang hamil muda; Alin Mesawarol, siswi kelas VI SD; Nopi Aim, siswi kelas IV SD; Opinte Meswaro, siswi kelas III SD; Yonita Senawatme, 18 tahun; Meria Nibilingame, 15 tahun; Wena Katagame, 18 tahun; Ilimin Onawame, 18 tahun; serta Miante Nibilingame, 13 tahun.

Kasus tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil di wilayah konflik. Sebab, ketika anak sekolah dan perempuan hamil ikut terseret dalam kekerasan, persoalannya sudah bukan lagi sekadar benturan kepentingan bersenjata. Ini soal bagaimana manusia diperlakukan ketika negara dan kelompok bersenjata sama-sama mengklaim punya alasan untuk bertindak.

Tiga ASN Dinas Pertanian Tewas Ditembak

Pada 9 September 2026, tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas dalam penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya.

Ketiga korban tersebut adalah Aprida Rapi, 49 tahun, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan asal Toraja, Sulawesi Selatan; Alfonsius Albinus Mehan, 35 tahun, dokter hewan asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur; serta Wili Mbuik, 24 tahun, calon pegawai negeri sipil asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Kategori :