Kapal Induk Hibah Italia Dirombak, Biaya Retrofit KRI Sriwijaya Tembus Rp7,5 Triliun

Minggu 20-09-2026,08:30 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Kapal induk Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan pemerintah Italia kepada Indonesia rupanya belum bisa langsung diajak berlayar sebagai kapal perang. Sebelum resmi memperkuat TNI Angkatan Laut, kapal tersebut harus menjalani retrofit alias perombakan dan penyesuaian agar cocok dengan kebutuhan Indonesia.

Kementerian Pertahanan bahkan sudah menghitung biaya yang diperlukan untuk menggarap kapal yang nantinya diberi nama KRI Sriwijaya tersebut. Angkanya tidak kecil, yakni sekitar Rp7,5 triliun.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan besaran biaya itu dihitung berdasarkan kebutuhan lingkup pekerjaan retrofit kapal Garibaldi.

“Biaya diperkirakan mencapai sekitar Rp7,5 triliun,” kata Rico saat dihubungi pada Jumat, 18 September 2026.

Anggaran sebesar itu akan digunakan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari modifikasi fasilitas pendukung, peningkatan kemampuan pelayanan medis, hingga penyesuaian sistem pendingin udara atau AC.

Urusan AC ini ternyata bukan perkara sepele. Garibaldi selama ini beroperasi di lingkungan yang berbeda dengan Indonesia. Setelah menjadi bagian dari TNI AL, kapal tersebut harus beradaptasi dengan kondisi wilayah tropis yang panas dan lembap. Kapal induk pun rupanya perlu menyesuaikan diri dengan iklim sebelum sibuk mengurus urusan pertahanan.

Retrofit juga mencakup pemenuhan sarana dan prasarana untuk mendukung operasional kapal. Selain itu, anggaran disiapkan untuk memastikan perawatan Garibaldi dapat dilakukan secara berkelanjutan.

BACA JUGA:Layanan Air Jakarta Terganggu, PAM Jaya Berikan Kompensasi untuk 44.872 Pelanggan di 10 Kelurahan

“Langkah modifikasi ini difokuskan agar kapal memiliki kesiapan teknis yang optimal, khususnya dalam mendukung Operasi Militer Selain Perang,” ujar Rico.

Dalam skenario tersebut, KRI Sriwijaya tidak hanya disiapkan untuk urusan yang berhubungan dengan perang. Kapal ini justru akan diprioritaskan untuk menjalankan berbagai operasi kemanusiaan dan penanganan bencana.

Garibaldi akan difungsikan untuk membantu penanganan bencana alam, bencana kemanusiaan, hingga mendukung distribusi logistik ke wilayah yang membutuhkan.

“Juga untuk dijadikan pangkalan udara terapung untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Rico.

Untuk menggarap kapal tersebut, TNI AL akan menggandeng perusahaan galangan kapal Indonesia dan Italia. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengatakan PT Penataran Angkatan Laut akan bekerja sama dengan Fincantieri dalam proses perbaikan dan peningkatan kemampuan kapal.

“Kami akan kerja sama antara PT Penataran Angkatan Laut dengan Fincantieri,” kata Ali setelah meninjau kondisi Garibaldi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat, 18 September 2026.

Fincantieri merupakan perusahaan galangan kapal asal Italia. Ali juga membuka kemungkinan keterlibatan perusahaan lain dalam proses retrofit kapal induk hibah tersebut.

Kategori :