Buku Sejarah Pemerintah Dikritik Habis-habisan, Arkeolog Sebut Klaim Nusantara sebagai Pusat Peradaban Bikin Mundur

Minggu 27-09-2026,11:00 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

“Apakah para peneliti sebelumnya tidak berbuat apa-apa dalam menggali identitas Indonesia? Apakah identitas yang sudah ada itu salah?” kata Truman.

Kritik berikutnya menyasar pendekatan Indonesia-sentris yang digunakan dalam penulisan sejarah. Truman menilai pendekatan tersebut berpotensi dibaca sebagai upaya untuk membantah penelitian yang dilakukan peneliti asing pada masa kolonial.

Padahal, menurut dia, penelitian yang dilakukan peneliti asing tidak otomatis berarti upaya memanipulasi atau menghapus data mengenai Indonesia. Banyak hasil penelitian dari masa kolonial justru masih menjadi rujukan hingga sekarang.

Dalam bidang prasejarah, misalnya, penelitian yang dilakukan para peneliti kolonial turut membuka pengetahuan mengenai kekayaan dan potensi Indonesia pada masa lampau.

“Kita harus mengakui itu. Tanpa penelitian asing di Indonesia, kita belum mengerti apa-apa yang namanya prasejarah,” ujar Truman.

Karena itu, Truman menilai pendekatan Indonesia-sentris dalam buku tersebut berisiko berubah menjadi glorifikasi terhadap bangsa sendiri. Dalam ilmu sejarah, menurut dia, penyusunan narasi semestinya tetap berpijak pada data, bukan pada keinginan untuk membuat kisah kebangsaan terdengar lebih gagah.

Persoalan lain ia temukan pada penggunaan istilah akar peradaban untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Nusantara pada masa lampau. Truman menjelaskan bahwa istilah akar peradaban memiliki konsekuensi teoritis karena merujuk pada kehidupan yang masih sederhana dan belum mencapai tingkat kompleksitas tertentu.

Padahal, menurut dia, kehidupan di Nusantara sejak sekitar 4.000 tahun lalu sudah menunjukkan tingkat kompleksitas yang tinggi. Perkembangan tersebut semakin terlihat pada masa megalitikum serta ketika masyarakat mulai mengenal dan menyerap teknologi logam.

Karena itu, Truman menilai istilah prasejarah lebih tepat digunakan untuk menggambarkan periode tersebut dibandingkan langsung menyebutnya sebagai peradaban.

“Jadi banyak fondasi teoritis yang hilang karena itu. Konstruksi teoritis prasejarah yang sudah terbangun puluhan tahun, bahkan sejak zaman kolonial, terus disempurnakan, hilang dalam buku ini,” ujar Truman.

Ia juga menilai terdapat sejumlah bagian penting yang hilang atau tidak dijelaskan secara memadai dalam jilid pertama. Menurut Truman, rekonstruksi kehidupan manusia sejak jutaan tahun lalu membutuhkan logika akademik yang kuat agar tidak berubah menjadi sekadar rangkaian cerita.

“Jangan heran nanti kalau membaca buku ini seperti melihat laporan,” kata Truman.

Buku sejarah tersebut mulai digagas pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Proyek itu melibatkan 123 ahli yang terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum.

Kementerian Kebudayaan melibatkan para ahli dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga nonkampus. Latar belakang keilmuan mereka juga beragam, mulai dari sejarawan, arkeolog, filolog, epigraf, hingga peneliti genetika.

Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan proyek tersebut memang dirancang untuk mengubah paradigma lama dalam melihat sejarah Indonesia. Ia ingin sejarah tidak berhenti sebagai hafalan mengenai tanggal, tempat, dan nama tokoh.

“Namun instrumen untuk mengasah nalar kritis, memahami akar persoalan kontemporer, dan memetakan arah masa depan bangsa melalui ruang dialog yang sangat terbuka,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya, Jumat, 4 September 2026.

Kategori :

Terpopuler