Sebagai contoh, kemasan 5 kilogram seringkali hanya berisi 4,5 kilogram, yang dianggap sebagai bentuk korupsi atau penggelapan.
Presiden sendiri menyebut praktik ini sebagai penipuan berskala besar.
Jika dihitung per kantong, setiap setengah kilogram yang digelapkan ini bisa mencapai jutaan kantong, menunjukkan skala kerugian yang sangat besar.
BACA JUGA:Link Film Hacksaw Ridge: Kisah Nyata Pahlawan Perang Tanpa Senjata
"Misalnya [beras] 5 kilogram, kita kadang-kadang nggak memeriksa pembeli kan, isinya 4,5 kilogram. Bayangkan setengah kilonya dikorupsi istilahnya, digelapkan, itu yang kata Pak Presiden kemarin, ini penipuan. Nah, itu, setengah kilo per kantong, kali sekian berapa juta kantong," jelasnya.
Kecurangan tahap kedua adalah mengedarkan beras medium namun menjualnya dengan harga beras premium, sebuah praktik penipuan.
Meskipun demikian, Tito juga berpandangan bahwa bukan hanya faktor ini saja yang menyebabkan harga beras terus merangkak naik.
Ada penyebab lain yang turut memengaruhi lonjakan harga komoditas penting ini.
BACA JUGA:GAC Indonesia Serahkan 1.051 Unit AION V ke Konsumen, Tawarkan Promo Menarik di GIIAS 2025
Ia menyatakan bahwa kendala pendistribusian beras telah mengakibatkan lonjakan harga komoditas ini, termasuk di zona 3 yang mencapai Rp54.772 per kilogram.
Namun, ia juga menyoroti bahwa kenaikan harga beras justru terjadi di daerah-daerah yang seharusnya menjadi pemasok utama, yaitu di sekitar lumbung pangan.
Ini terjadi di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Utara.
Tito menekankan bahwa Presiden Prabowo Subianto sangat menaruh perhatian pada harga beras.
BACA JUGA:Orang Tua Jangan Lalai, Berikut 6 Bahaya Salah Pergaulan Bagi Anak
Komoditas ini dianggap vital dan perlu diamankan, setara dengan bahan bakar minyak (BBM).
Dengan adanya perhatian dari pemerintahan, diharapkan ada solusi komprehensif untuk memberantas praktik curang dan memastikan distribusi beras berjalan lancar.