Soenarko: Geng Solo Jokowi Masih Jadi Virus di Kabinet Prabowo

Kamis 18-09-2025,10:42 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id – Mantan Danjen Kopassus, Mayjen TNI (Purn) Soenarko, kembali bikin panas telinga lewat kritiknya. Kali ini sasarannya adalah kelompok yang ia sebut “Geng Solo”, alias lingkaran pengaruh politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Soenarko, geng ini bukan sekadar bayangan masa lalu, tapi masih jadi “virus” dan “kuman berbahaya” yang bercokol di Kabinet Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Soenarko bahkan terang-terangan menyebut sudah melayangkan surat kepada Prabowo. Intinya adalah mendorong reshuffle total dan bersihkan kabinet dari para loyalis Jokowi.

“Keluarkan itu menteri-menteri yang diduga kuat terlibat korupsi dan masih orang-orangnya Jokowi, ‘Geng Solo’,” tegasnya dalam Podcast yang ditayangkan Selasa, 17 September 2025, itu.

BACA JUGA:Arahan Prabowo ke Qodari: Jaga Program, Jaga Publik Biar Tetap Nurut

Serang PSI dan Kaesang

Soenarko tak berhenti di situ. Ia menuding Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai mesin politik paling lantang menyerang Prabowo. PSI, kata dia, bukan sekadar partai anak muda, tapi kepanjangan tangan keluarga Jokowi.

“Yang terang-terangan terbuka menyerang Prabowo untuk lengser adalah PSI, PSI ini siapa punya? Geng Solo, si Kaesang, ini adiknya si Gibran, anaknya Jokowi,” ujarnya.

Selain urusan reshuffle, Soenarko juga membawa tuntutan Forum Purnawirawan Prajurit TNI soal reformasi Polri. Baginya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo harus segera diganti. Menunda, kata dia, hanya akan menimbulkan spekulasi liar. 

“Jadi kalau masih tidak diganti, jadi ada dugaan-dugaan, Prabowo ini tersandera oleh Jokowi,” ucapnya menutup pernyataan.

BACA JUGA:11 Pejabat Baru Dilantik, Kabinet Prabowo Makin Penuh Campur Aduk Rasa

Siapa Soenarko?

Nama Soenarko mungkin tak asing bagi dunia militer Indonesia. Lahir di Medan pada 1 Desember 1953, ia meniti karier panjang di tubuh TNI hingga pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal. Lulusan Akmil 1978, Soenarko dikenal sebagai prajurit tempur yang ditempa di kesatuan Infanteri – Baret Hijau Kostrad, lalu menghabiskan sebagian besar karier emasnya di unit elite Kopassus.

Karier militernya mencakup jabatan Danrem, Kasdim, hingga akhirnya dipercaya sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada 2007–2008. Posisinya naik lagi jadi Pangdam Iskandar Muda (Aceh) tahun 2008, lalu Danpussenif (Komando Pusat Infanteri) tahun 2009. Rekam jejaknya jelas: ia bukan jenderal biasa, tapi salah satu pengendali pasukan strategis TNI.

Nama Soenarko juga masuk catatan sejarah militer pasca-reformasi. Ia duduk di Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bersama jenderal besar lain seperti Subagyo Hadisiswoyo, Fachrul Razi, SBY, dan Agum Gumelar. DKP inilah yang memutuskan Prabowo Subianto dipecat dari ABRI pada 1998 karena kasus penculikan aktivis.

Dengan kata lain, Soenarko pernah menjadi bagian “meja hakim” yang menentukan nasib sang mantan Danjen Kopassus yang kini jadi Presiden. Ironisnya, belasan tahun kemudian, ia justru masuk lingkaran politik yang mendukung Prabowo.

BACA JUGA:Prabowo Angkat Qodari Pimpin KSP, Strategi Istana Kini di Tangan Juru Survei

Kategori :