SEMARAKNEWS.CO.ID - Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa negaranya tidak akan membuka kedutaan besar Prancis di Palestina sebelum para sandera yang masih ditahan di Gaza benar-benar dibebaskan.
Pernyataan ini ia sampaikan pada Senin (22/9/2025) dalam wawancara yang dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Macron, langkah pembebasan sandera menjadi syarat mutlak sebelum Paris melanjutkan rencana diplomatik lebih jauh.
“Pembebasan para sandera adalah persyaratan yang sangat jelas sebelum membuka, misalnya, sebuah kedutaan besar di Palestina,” ujar Macron.
BACA JUGA:Prabowo Subianto Akhiri Puasa 10 Tahun Indonesia Hadir di UNGA UNGA ke-80 Digelar di Markas PBB
Prancis Sudah Umumkan Akan Akui Palestina
Sebelumnya, Prancis telah mengumumkan niatnya untuk mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Namun, Macron menekankan bahwa pengakuan itu harus berjalan beriringan dengan situasi kemanusiaan di lapangan, termasuk nasib para sandera yang masih ditahan kelompok Hamas.
Langkah ini menunjukkan bahwa Paris ingin tetap berhati-hati dalam memainkan peran diplomasi di tengah konflik berkepanjangan Israel–Palestina.
Macron Tolak Pemindahan Paksa Warga Palestina
Selain soal sandera, Macron juga secara tegas menolak kemungkinan upaya Israel untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza. Ia menyebut rencana semacam itu sebagai hal yang tidak masuk akal.
“Jika prasyarat dari rencana semacam itu adalah untuk mengusir mereka, itu benar-benar sebuah kegilaan,” kata Macron.
Ia menambahkan, kredibilitas negara besar seperti Amerika Serikat maupun Prancis akan runtuh jika ikut membiarkan proyek pemindahan paksa warga Palestina.
“Kita tidak boleh — demi kredibilitas Amerika Serikat, demi kredibilitas Prancis — secara implisit maupun eksplisit bersikap permisif terhadap proyek semacam itu,” tegasnya.
Sikap Diplomasi Prancis di Tengah Konflik Gaza
Sejak meletusnya perang Gaza yang semakin memburuk, Prancis mengambil posisi berimbang namun kritis terhadap kedua pihak.
Di satu sisi, Paris mendorong solusi dua negara (two-state solution) dan mendukung pengakuan Palestina. Di sisi lain, Macron menuntut Hamas membebaskan sandera sebagai syarat kemajuan diplomasi.
Sikap ini sekaligus memperlihatkan konsistensi Prancis dalam mendukung hak asasi manusia, sembari menjaga hubungan dengan sekutu tradisionalnya di Eropa dan Amerika.
Apa Makna Pernyataan Macron?
Langkah Macron bisa dimaknai sebagai pesan ganda:
-
Untuk Hamas: pembebasan sandera adalah syarat utama jika ingin melihat pengakuan dan dukungan dunia lebih luas bagi Palestina.
-
Untuk Israel: Prancis tidak akan tinggal diam jika ada upaya mengusir warga Palestina dari tanahnya, yang bisa dianggap sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan.
Dengan posisi ini, Prancis berusaha menunjukkan diri sebagai pemain kunci diplomasi internasional di Timur Tengah, di tengah banyaknya tekanan dari masyarakat global.