JAKARTA, Semaraknews.co.id – Selembar foto hitam-putih lawas mendadak bikin heboh di jagat diskusi sejarah. Gambar itu menangkap momen dua pentolan Partai Komunis Indonesia atau PKI yang tengah duduk serius di meja rapat.
Pria di sebelah kiri, rambut klimis rapi, tak lain adalah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central PKI. Di sampingnya, mengenakan peci khas santri, ada MH Lukman, Wakil Ketua Pertama CC PKI.
Tapi yang bikin orang melongo bukan jabatan keduanya, melainkan gestur tangan yang ditengadahkan khusyuk. Aidit dan Lukman tampak sedang berdoa ala tradisi Islam, sementara di belakang mereka berdiri patung Vladimir Lenin, ikon revolusi Rusia.
Bagi generasi yang tumbuh di bawah doktrin Orde Baru, pemandangan seperti ini mungkin bikin jidat berkerut. PKI selama puluhan tahun dipropagandakan sebagai partai anti-Tuhan, ateis, musuh umat beragama. Tapi foto itu justru membuka celah ke realitas politik yang lebih cair dan penuh strategi.
BACA JUGA:Basuki Minta Restu 36 Juta Petani untuk Pembangunan IKN
Momen Aidit dan Lukman berdoa bukanlah anomali, melainkan strategi politik PKI di era Demokrasi Terpimpin. Aidit tahu betul bahwa buruh dan tani—basis massa terbesar di Indonesia—adalah kelompok religius. Maka, PKI tidak memosisikan diri sebagai musuh agama. Sebaliknya, mereka mencari titik temu antara ide komunisme dengan nilai keadilan sosial dalam kitab suci.
PKI kerap mengutip ayat tentang perlawanan terhadap penindasan, pembelaan kaum miskin, hingga keadilan sosial. Banyak kader PKI justru muslim taat, pendeta, atau tokoh agama lokal. Buat mereka, menjadi komunis bukan berarti membuang iman, melainkan jalur politik untuk mewujudkan cita-cita agama dalam realitas sosial.
Relevansi Marxisme
Ironinya, di saat narasi Orde Baru sudah runtuh, Marxisme justru kembali ditakut-takuti lewat KUHP baru. Pasal 188 KUHP Tahun 2022 bahkan mengancam penjara empat tahun bagi penyebar ajaran Marxisme. Padahal sejarah mencatat, Marxisme pernah menjadi inspirasi utama gerakan anti-kolonial jauh sebelum kemerdekaan.
Awalnya, Marxisme menancapkan akar di Hindia Belanda lewat Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) yang didirikan Henk Sneevliet pada awal abad ke-20. ISDV bahkan menjalin hubungan erat dengan Sarekat Islam hingga melahirkan faksi SI Merah. Tokoh-tokoh progresif seperti Semaun, Alimin, dan Darsono kemudian mengubah ISDV menjadi Perserikatan Komunis Hindia, cikal bakal PKI.
BACA JUGA:Qodari Jelaskan IKN Ibu Kota Politik: Kalau Cuma Ada Istana, DPR Mau Rapat Sama Siapa?
Di bawah PKI, Marxisme sempat berjaya. Partai itu ikut menjadi salah satu pemenang Pemilu 1955 dengan basis kuat buruh dan petani. Namun, peristiwa G30S 1965 membalik keadaan. PKI dituding dalang, dibubarkan lewat Tap MPRS, dan sejak itu Orde Baru memberangus Marxisme habis-habisan. Propaganda anti-komunis digencarkan lewat film, buku, hingga kurikulum sekolah.
Ironisnya, teori turunan Marxisme seperti hegemoni Antonio Gramsci justru ikut menyuburkan gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menjatuhkan Soeharto. Artinya, meskipun dilarang, ide-ide Marxis tetap merembes dan relevan di tengah krisis sosial-politik.
Sejarawan Andi Achdian bilang, “Marxisme selalu muncul dalam situasi adanya ketertindasan, karena marxisme satu-satunya ide yang memberikan perlawanan terhadap kolonialisme.”
Ia menilai rezim yang alergi terhadap Marxisme biasanya justru rezim eksploitatif. “Marxisme adalah antitesis dari sistem eksploitatif, sehingga ketika ada rezim yang menduplikasi sesuatu sistem yang eksploitatif, ya pasti dia akan mematikan itu,” ujarnya.