BACA JUGA:Polemik Ijazah Jokowi, Ade Armando Seret Nama PDIP, Anies, dan Demokrat Sebagai Dalangnya
Kenyataan hari ini pun membenarkan analisis itu. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat 68 persen tanah dikuasai hanya oleh 1 persen korporasi. Ketimpangan akut ini membuat Marxisme kembali relevan, bukan sekadar di buku, tapi sebagai alat analisis sosial yang nyata.
Peneliti PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, bahkan yakin generasi Z akan melirik Marxisme sebagai senjata intelektual. Baginya, larangan justru bikin paham ini makin seksi.
“Ada adagium, ‘semakin kita ditekan, semakin kita berontak’,” kata Virdika. “Saya rasa di sosmed akan menjadi berisik meskipun ada pelarangan. Marxisme akan semakin menjual, karena semakin relevan.”