SEMARAKNEWS.CO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka-bukaan soal perjalanan karier dan pengalamannya dalam dunia pemerintahan.
Dalam forum Investor Daily Summit 2025 yang digelar di Jakarta, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut pada siapapun, sebab selama ini sudah terbiasa berinteraksi dengan para tokoh besar dan pengambil keputusan di berbagai rezim pemerintahan Indonesia.
“Saya enggak pernah takut sama siapa saja. Saya sudah selalu terekspos dengan cara berpikir mereka, cara mereka mengambil keputusan,” ujar Purbaya, dikutip Minggu (12/10/2025).
Nama Purbaya memang bukan sosok baru dalam lingkaran elit ekonomi dan politik Indonesia.
Ia pernah bekerja di bawah Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Chairul Tanjung, hingga Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.
BACA JUGA:Pemerintah Fokus Bangun 50 Kota dan Kawasan Baru di 2026, Ini Daftarnya
Dengan pengalamannya itu, Purbaya mengaku sudah terbiasa “bergaul dengan top-top thinker” alias para pemikir besar di Indonesia. Tak heran bila kini ia tampil percaya diri memegang peran penting sebagai Menteri Keuangan di kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Purbaya Akui Pernah “Menakut-nakuti” Prabowo Sebelum Jadi Menteri Keuangan
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menceritakan kisah menarik di balik penunjukannya sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati, yang sebelumnya menjabat selama 14 tahun.
Ia mengaku sempat dipanggil Prabowo ke Hambalang, Bogor, pada awal September 2025, bersama empat orang lainnya. Prabowo, kata Purbaya, saat itu memberikan paparan dan diskusi panjang selama tiga hari berturut-turut.
Namun pada hari ketiga, Minggu (7/9/2025), Purbaya akhirnya memutuskan untuk berbicara terus terang.
“Waktu itu saya bilang, ‘Pak, kalau arah kebijakan ekonomi tidak segera diubah, Februari bakal ada pergantian kekuasaan.’ Saya takut-takutin dia,” ujar Purbaya disambut tawa peserta forum.
Menurutnya, pernyataan itu bukan sekadar gertakan kosong, melainkan analisis ekonomi berdasarkan data historis yang ia pelajari sejak era Presiden Soeharto hingga Jokowi.
Prediksi Krisis dan Pergantian Kekuasaan Berdasarkan Siklus Ekonomi
BACA JUGA:Patrick Kluivert Kecewa Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026: Kami Bermain Lebih Baik dari Irak
Purbaya memaparkan bahwa sejak masa pemerintahan Presiden ke-2 Soeharto, pola ekonomi Indonesia menunjukkan siklus ekspansi selama tujuh tahun yang kemudian diikuti oleh masa penurunan ekonomi selama sekitar satu tahun.
Jika pemerintah salah mengambil keputusan di masa penurunan itu, katanya, dampaknya bisa fatal, bahkan berujung pada pergantian kekuasaan, sebagaimana terjadi pada kejatuhan Soeharto pada 1998 dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 2001.
Sebaliknya, pada masa SBY (2008–2009) dan Jokowi (2016), masa penurunan ekonomi dapat dilewati dengan relatif stabil. Purbaya mengklaim, dirinya turut memberi masukan penting pada dua periode itu.
“Ekonomi jatuh, dia jatuh. Untung ada saya,” ujarnya sembari tersenyum.
Analisis Purbaya: Ekonomi Indonesia “Kering” pada Pertengahan 2025
Menurut Purbaya, salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan pemerintah adalah pertumbuhan uang primer (M0). Ia menyebut, bila angka M0 terlalu rendah, maka ekonomi bisa “kering” dan menimbulkan gejolak sosial.
“Masalahnya, pertumbuhan uang primer mendekati 0% pada pertengahan 2025. Jadi saya tidak heran kalau sempat terjadi demo besar-besaran di beberapa kota pada Agustus lalu,” ungkapnya.
Ia memperingatkan bahwa jika arah kebijakan moneter dan fiskal tidak diubah, maka gejolak ekonomi dan sosial bisa semakin parah.
Bahkan, menurut hitungan ekonominya, “Februari tahun depan bisa jadi momen pergantian kekuasaan dengan cost sosial yang mahal.”
Pernyataan tegas inilah yang disebut Purbaya akhirnya membuat Prabowo mantap menunjuknya menjadi Menteri Keuangan.
“Nah, itu recipe to my success. Kita takut-takutin dia. Akhirnya, Senin (8/9/2025), saya langsung dilantik,” ujarnya dengan nada santai.
Prabowo Dianggap Pemimpin yang Cermat dan Terbuka
Meski sempat “menakut-nakuti” Prabowo, Purbaya tetap memberikan pujian tinggi kepada Presiden ke-8 Republik Indonesia itu. Menurutnya, Prabowo merupakan sosok pemimpin yang cermat, tegas, dan cepat dalam mengambil keputusan.
“Prabowo orangnya cepat nangkap, paham data, dan berani mengambil keputusan penting dengan cepat. Itu yang membuat saya respect,” ucapnya.
Dengan karakter itu, Purbaya yakin arah kebijakan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo akan lebih fokus pada penguatan daya beli masyarakat, stabilisasi moneter, dan peningkatan investasi produktif.
Dari Ekonom hingga Menteri Keuangan: Perjalanan Karier Purbaya
Sebelum menjadi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dikenal sebagai ekonom senior dan mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Ia juga pernah menjabat di berbagai lembaga strategis pemerintah, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Dengan pengalaman panjang di berbagai pemerintahan, Purbaya kerap disebut sebagai “jembatan antar generasi ekonomi Indonesia”. Ia dikenal vokal, tegas, dan sering mengkritik kebijakan moneter yang dianggap terlalu konservatif.
Kini, setelah resmi menjadi menteri keuangan, publik menantikan gebrakannya dalam menjaga stabilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.