Media Argentina Sindir Malaysia Soal Skandal Naturalisasi Palsu: Iri pada Indonesia, Tapi Salah Jalan!

Rabu 29-10-2025,12:16 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Kasus skandal naturalisasi palsu yang menjerat Malaysia terus menjadi bahan pembicaraan panas, bahkan sampai ke Amerika Selatan.

Publik dan media di Argentina kini ikut menyoroti tindakan Harimau Malaya yang dinilai nekat memalsukan dokumen agar bisa menurunkan pemain asing di tim nasional mereka.

Dalam laporan yang dimuat La Nación, salah satu media ternama Argentina, mereka menilai Malaysia terlalu “ngotot” ingin meniru kesuksesan Indonesia dalam proyek naturalisasi pemain keturunan tetapi justru melangkah dengan cara yang salah.

Tiga Pemain Asal Argentina Jadi Sorotan, Kena Sanksi FIFA

Skandal ini mencuat setelah FIFA resmi menjatuhkan sanksi kepada tujuh pemain naturalisasi Malaysia, tiga di antaranya berasal dari Argentina: Facundo Garces, Imanol Machuca, dan Rodrigo Holgado.

Ketiganya diduga menggunakan dokumen palsu yang menyebut mereka memiliki keturunan Malaysia dari jalur kakek atau nenek, padahal tidak terbukti secara hukum.

BACA JUGA:GIIAS Makassar 2025 Siap Digelar di Lokasi Baru, Hadirkan Promo Tiket Gratis dan Dukungan Pelaku Usaha Lokal

Akibatnya, ketiga pemain tersebut didenda dan dilarang beraktivitas di dunia sepak bola selama satu tahun penuh.

Hukuman ini juga berdampak pada status Malaysia di mata FIFA, karena dinilai telah melanggar regulasi internasional soal kewarganegaraan pemain.

“Menurut aturan FIFA, seorang pemain dapat membela negara lain jika ayah, ibu, atau kakek-neneknya lahir di negara tersebut. Tapi Malaysia sengaja memanipulasi catatan agar pemain ini memenuhi syarat,” tulis La Nación.

Malaysia Dinilai “Kebablasan” Ingin Bangun Tim Kelas Dunia

Media Argentina itu juga menilai langkah Malaysia sangat tergesa-gesa.

Bukannya membangun tim nasional dengan sistem pembinaan yang kuat, Malaysia justru menempuh jalan pintas dengan menaturalisasi pemain asing dari berbagai negara — tanpa verifikasi dokumen yang valid.

“Jika Anda ingin membangun tim multietnis, setidaknya semua dokumen harus valid. Tapi hal ini tidak berlaku di sepak bola Malaysia,” tulis La Nación lagi dengan nada sindiran.

Dalam laporannya, media tersebut juga menyoroti bahwa Malaysia telah menaturalisasi sekitar 10 pemain dari berbagai negara, termasuk Argentina, Brasil, Spanyol, Belanda, Australia, Belgia, Finlandia, hingga Barbados.

“Malaysia menaturalisasi secara serampangan, tanpa memperhatikan aturan dasar FIFA. Mereka terlalu terburu-buru ingin sukses seperti negara lain,” tambah laporan itu.

“Iri pada Indonesia, Tapi Salah Jalan”

Yang membuat publik Argentina lebih heran, adalah fakta bahwa Malaysia disebut terinspirasi oleh Indonesia dalam proyek naturalisasi pemain.
Namun, bukannya meniru secara bijak, Malaysia justru memalsukan dokumen demi mendapatkan pemain asing berkualitas dengan cepat.

“Seperti halnya Indonesia atau UEA, naturalisasi pemain dari latar belakang sepak bola berkualitas tinggi adalah tren di Asia. Tapi Malaysia mengambil jalan yang salah,” pungkas La Nación dalam laporannya.

Banyak warganet Argentina di media sosial pun mengomentari berita tersebut dengan nada sinis, bahkan ada yang menyebut Malaysia “terlalu ingin instan” dan “tidak belajar dari keberhasilan Indonesia.”

Menunggu Keputusan Banding FIFA

Sementara itu, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kini masih menunggu hasil keputusan banding dari FIFA, yang dijadwalkan keluar pada 30 Oktober 2025.

Jika hasilnya tetap tidak menguntungkan, Malaysia dikabarkan siap membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.

Langkah banding ini diyakini sebagai upaya terakhir Malaysia untuk mengurangi dampak sanksi yang berpotensi membuat mereka tidak bisa tampil di ajang internasional selama setahun penuh.

BACA JUGA:Intip Promo Akhir Bulan Oktober Wingstop: Tersedia 6 Paket Mulai Rp36.000an!

 

Namun, publik sepak bola global tampaknya sudah terlanjur memberikan penilaian negatif terhadap Malaysia.

Kasus ini dianggap sebagai tamparan keras bagi kredibilitas FAM, dan menjadi pelajaran penting bagi negara-negara lain agar tidak bermain-main dengan aturan FIFA.

Kategori :