Menurutnya, perilaku yang mendukung kesehatan terbukti berkaitan dengan penurunan nyeri, fungsi fisik yang lebih baik, serta penguatan kesehatan otak dalam jangka panjang. Dampak positif ini bahkan terlihat pada individu dengan kondisi kesehatan kronis.
Kepribadian Juga Berpengaruh pada Umur Panjang
Temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang mengaitkan kepribadian dengan risiko kematian.
Dalam studi besar yang dipimpin oleh peneliti dari University of Limerick, data dari lebih dari 500 ribu orang dianalisis, dengan 43.851 kematian tercatat selama periode penelitian.
BACA JUGA:Tragedi Tol Krapyak Semarang: 16 Penumpang Tewas, Sopir Bus Selamat
Para ilmuwan meneliti lima sifat kepribadian utama:
- Neurotisisme
- Ekstroversi
- Keterbukaan
- Keramahan
- Kehati-hatian (conscientiousness)
Hasilnya, individu dengan neurotisisme tinggi—yang cenderung mudah cemas dan emosional—memiliki risiko meninggal lebih dini sekitar 3 persen lebih tinggi.
Sementara itu, orang dengan tingkat kehati-hatian tinggi, yang dikenal disiplin, terorganisir, dan dapat diandalkan, memiliki risiko kematian 10 persen lebih rendah.
Sifat ekstroversi, yang berkaitan dengan keterlibatan sosial dan kemudahan bergaul, juga dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebesar tiga persen.
Adapun sifat keterbukaan dan keramahan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan angka kematian.
Pikiran dan Perilaku Menentukan Kualitas Hidup
Menurut Dr. Máire McGeehan, profesor madya University of Limerick yang memimpin studi tersebut, cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak tidak hanya memengaruhi kebahagiaan dan hubungan sosial, tetapi juga berdampak nyata pada panjang dan kualitas hidup.