Food Genomics Makin Dilirik, Pola Makan Berbasis DNA Disebut Lebih Efektif dari Diet Konvensional

Jumat 09-01-2026,22:22 WIB
Reporter : Jeany Pohan
Editor : Priya Satrio

JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Gaya hidup sehat kini tak lagi bersifat seragam. Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda, termasuk dalam hal pola makan.

Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian luas adalah food genomics atau nutrigenomik, sebuah metode nutrisi berbasis genetika yang menyesuaikan asupan makanan dengan profil DNA masing-masing individu.

Pendekatan ini dinilai mampu menjawab keterbatasan diet konvensional yang sering kali memberikan hasil berbeda pada setiap orang.

Apa yang efektif bagi satu individu, belum tentu memberikan dampak yang sama bagi individu lainnya.

Apa Itu Food Genomics?

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis analisis genetik, di mana rekomendasi pola makan disesuaikan dengan kode genetik seseorang. Perbedaan genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, mulai dari proses metabolisme, penyerapan zat gizi, hingga potensi intoleransi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu.

"Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi bagaimana tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan nutrigenomik bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat.

Perkembangan Nutrigenomik di Dunia dan Indonesia

Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pencegahan penyakit dan pentingnya pendekatan kesehatan yang lebih presisi. Nutrigenomik kini banyak digunakan sebagai bagian dari upaya optimalisasi gaya hidup sehat berbasis data individu.

Di Indonesia sendiri, pemeriksaan food genomics masih tergolong terbatas. Meski demikian, penelitian mengenai hubungan antara faktor genetik dan nutrisi sudah cukup banyak dilakukan, membuka peluang pengembangan layanan nutrisi personal di masa depan.

Proses Tes dan Manfaat Food Genomics

Pemeriksaan food genomics umumnya dilakukan melalui sampel darah atau air liur, dengan waktu analisis sekitar 1–2 minggu. Hasil tes kemudian dianalisis dan diinterpretasikan oleh dokter spesialis gizi klinik.

Dari hasil tersebut, pasien akan mendapatkan rekomendasi nutrisi personal, antara lain:

Pengaturan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak)

Kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D

Kategori :

Terpopuler