Ilmuwan Dunia Terkejut! Penelitian Ini Mengungkap Dugaan Hajar Aswad Berasal dari Luar Angkasa

Minggu 18-01-2026,21:17 WIB
Reporter : Jeany Pohan
Editor : Priya Satrio

JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Hajar Aswad merupakan salah satu objek paling sakral dalam Islam yang terletak di sudut Ka’bah, Masjidil Haram, Makkah.

Selain memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi umat Muslim, batu hitam ini juga memicu rasa penasaran besar di kalangan ilmuwan dunia.

Sejumlah peneliti bahkan meyakini bahwa Hajar Aswad kemungkinan berasal dari luar angkasa, tepatnya terkait dengan fenomena meteorit purba.

Pandangan ini bukan sekadar spekulasi. Berbagai penelitian ilmiah telah dilakukan untuk mengamati karakter fisik Hajar Aswad, meski tentu dengan keterbatasan karena kesakralannya. Salah satu kajian paling sering dibahas datang dari akademisi Eropa.

BACA JUGA:Tips Membeli Mobil Bekas agar Tidak Tertipu Pedagang

Penelitian Ilmiah yang Mengungkap Keunikan Hajar Aswad

Salah satu penelitian terkenal dilakukan oleh Elsebeth Thomsen, peneliti dari University of Copenhagen, dalam karya ilmiahnya berjudul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba.

Dalam kajian tersebut, Thomsen memaparkan sejumlah temuan menarik yang menguatkan dugaan bahwa Hajar Aswad tidak berasal dari batuan bumi biasa.

1. Kemiripan dengan Kaca Impaksi Meteorit

Thomsen menemukan bahwa karakteristik Hajar Aswad sangat mirip dengan kaca impaksi, yaitu material yang terbentuk akibat tumbukan meteorit raksasa ke permukaan bumi. 

Benturan ekstrem ini menciptakan panas sangat tinggi hingga melelehkan pasir silika, lalu membeku menjadi kaca alami dengan struktur unik.

Jenis material ini jarang ditemukan dan biasanya berkaitan langsung dengan peristiwa kosmik berskala besar.

BACA JUGA:Resep Rendang Daging Sapi Bumbu Sederhana, Cita Rasa Padang Tetap Juara untuk Lauk Ketupat!

2. Keterkaitan dengan Kawah Wabar di Arab Saudi

Penelitian ini juga mengaitkan Hajar Aswad dengan Kawah Wabar yang berada di Gurun Rub’ al Khali, Arab Saudi. Kawah tersebut ditemukan pada tahun 1932 oleh penjelajah Inggris, Harry St. John Philby.

Studi lanjutan oleh El Goresy dan rekan-rekannya (1968) mengungkap bahwa material di Kawah Wabar berupa kaca hasil lelehan pasir silika. Menariknya, material ini memiliki:

- Permukaan luar berwarna hitam mengilap

- Bagian dalam berwarna putih dan berpori

Kategori :

Terpopuler