SEMARAKNEWS.CO.ID - Pilihan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia kini semakin beragam. Selain produk milik Pertamina, masyarakat juga bisa dengan mudah menemukan BBM dari produsen swasta seperti Shell, BP-AKR, Mobil1, hingga Vivo yang menawarkan berbagai jenis bensin dengan angka oktan serupa.
Banyaknya pilihan ini membuat sebagian pemilik kendaraan bermotor kerap gonta-ganti merek BBM. Alasannya pun bermacam-macam, mulai dari SPBU terdekat sedang antre panjang, stok habis, hingga sekadar ingin mencoba sensasi performa mesin dari BBM merek lain.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ternyata kebiasaan sering mengganti merek BBM tidak sepenuhnya aman bagi kendaraan.
Bahkan, jika dilakukan terlalu sering, dampaknya bisa cukup serius terhadap performa mesin.
Ahli Konversi Energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto, mengungkapkan bahwa meskipun terlihat sepele, kebiasaan mengganti merek BBM bisa menimbulkan efek negatif dalam jangka panjang.
Menurut Prof Tri, setiap merek BBM memang mengacu pada standar Research Octane Number (RON) yang sama. Namun, detail kandungan di dalamnya tidak selalu identik.
BACA JUGA:Suzuki GSX 150 RS 2026 Resmi Meluncur, Skutik Sport Premium Penantang Serius PCX dan NMAX
“Penggolongan RON itu umumnya sama dari setiap produsen. Misalnya BBM RON 92 di Pertamina ada Pertamax dan di Shell ada Super. Tapi detail RON-nya bisa berbeda, ada yang pas 92 dan bisa ada yang 92,5,” ujar Prof Tri
Perbedaan kecil inilah yang kerap membuat sensasi berkendara terasa tidak sama, meskipun angka oktannya terlihat serupa di atas kertas.
Lebih lanjut, Prof Tri menjelaskan bahwa perbedaan utama BBM dari berbagai produsen terletak pada zat aditif yang digunakan. Setiap produsen memiliki formula rahasia masing-masing untuk meningkatkan kualitas bahan bakar mereka.
“Zat aditif pada BBM ada yang berfungsi mengatur RON seperti octane booster, ada juga yang menjaga performa mesin seperti deterjen,” jelasnya.
Tak hanya itu, ada pula aditif yang berfungsi menjaga kebersihan komponen mesin, khususnya katup hisap, karburator, dan injector, agar tidak mudah terbentuk deposit kotoran.
“Zat aditif yang digunakan berbagai produsen ini berbeda-beda. Makanya kalau kendaraan biasa isi BBM Pertamina lalu mencoba Shell atau produsen lain, rasanya juga akan berbeda,” lanjut Prof Tri.
Risiko Pencampuran BBM Beda Merek di Tangki
Masalah muncul ketika BBM dari merek berbeda bercampur di dalam tangki. Pasalnya, tidak semua pengendara mengisi BBM sampai kondisi tangki benar-benar kosong.
Menurut Prof Tri, efek pencampuran BBM ini sangat bergantung pada kemampuan mesin kendaraan.
“Orang itu jarang mengisi BBM sampai tangkinya habis dan kosong. Sehingga kalau BBM dari beda merek ini tercampur, jika mesinnya mampu menerima tidak masalah,” katanya.
Namun, jika mesin kendaraan tidak mampu menyesuaikan diri dengan campuran aditif yang berbeda, justru bisa memicu masalah.
“Kalau tidak mampu, justru malah menghasilkan kotoran yang banyak,” jelas Prof Tri.
Performa Mesin Bisa Menurun
Dampak yang paling sering dirasakan akibat pencampuran BBM beda merek adalah penurunan performa mesin. Prof Tri menilai, tidak semua aditif dari produsen berbeda bisa bekerja secara harmonis di ruang bakar.
“Jika masing-masing BBM beda produsen ini tak bisa bersinergi di ruang bakar, akan membuat performa mesin kendaraan menurun,” ungkapnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan endapan kotoran di sistem pembakaran, injector, hingga katup mesin, yang akhirnya membuat tarikan mesin terasa berat dan konsumsi BBM menjadi lebih boros.
Saran Ahli
Melihat potensi risiko tersebut, Prof Tri memberikan saran tegas kepada para pemilik kendaraan agar tidak terlalu sering berganti-ganti merek BBM.
“Saran saya sebaiknya jangan sering mencampur atau mengonsumsi BBM dari merek yang berbeda,” tegasnya.
Ia menyarankan, jika kendaraan sudah cocok dengan satu merek BBM tertentu, sebaiknya digunakan secara konsisten.
“Misalnya kalau sering pakai Pertamina atau produsen lain, ya konsisten pakai itu saja terus,” tutup Prof Tri.