JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Prakiraan cuaca BMKG menunjukkan potensi anomali cuaca di berbagai wilayah Indonesia selama sepekan ke depan bertepatan dengan awal Ramadan 2026.
BMKG menyampaikan bahwa cuaca ekstrem di Indonesia dipicu kombinasi dinamika atmosfer yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
Menurut prakiraan BMKG, aktivitas Monsun Asia masih dominan dan menyuplai massa udara basah ke wilayah Indonesia sehingga berpotensi meningkatkan curah hujan lebat.
BACA JUGA:Update Harga Emas 21 Februari 2026: Antam, UBS, dan Galeri 24 Kompak Menguat
Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem Versi BMKG
Dalam analisis BMKG, fenomena La Nina masih berpengaruh terhadap peningkatan pembentukan awan hujan terutama di Indonesia bagian timur.
Selain itu, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada di fase Samudra Hindia turut memperkuat pertumbuhan awan konvektif berdasarkan laporan BMKG.
Gelombang atmosfer seperti Kelvin dan Rossby Ekuator juga terpantau aktif di wilayah perairan barat Sumatera hingga Laut Jawa menurut pemantauan BMKG.
Tak hanya itu, BMKG mendeteksi sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Banten dan Kalimantan Barat yang memperbesar potensi hujan lebat disertai angin kencang.
Gabungan faktor global dan regional tersebut sebelumnya telah memicu curah hujan ekstrem pada 17–19 Februari 2026 berdasarkan data resmi BMKG.
Rekor Curah Hujan Ekstrem 17–19 Februari 2026
Data BMKG mencatat curah hujan harian ekstrem terjadi di sejumlah daerah selama periode tersebut.
Wilayah Sumatera Barat mencatat 176,3 mm berdasarkan laporan BMKG.
Aceh mencatat 130,9 mm menurut data BMKG.