Perang Kartel Meksiko Ganggu Pasokan Narkoba ke Indonesia, BNN Ungkap Peran Jaringan Golden Peacock

Rabu 25-02-2026,21:17 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap bahwa konflik antar kartel di negara Amerika Latin tersebut sedikit banyak memengaruhi rantai pasok narkotika ke Tanah Air.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal (Komjen) Suyudi Ario Seto, mengatakan bahwa sebagian rantai pasok narkoba ke Indonesia selama ini terhubung dengan jaringan yang dikenal sebagai Golden Peacock, yang berpusat di kawasan Amerika Latin, khususnya Meksiko dan Brasil.

“Konflik kartel narkoba yang sedang terjadi di Meksiko, situasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap rantai pasokan narkotika di Indonesia,” ujar Suyudi dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu, (25/2/2026).

Golden Peacock dan Tiga Poros Besar Narkoba Dunia

Menurut Suyudi, rantai pasok narkotika ke Indonesia tidak berdiri sendiri. Ia melibatkan jaringan internasional besar yang selama ini dikenal dengan tiga poros utama, yakni Golden Triangle, Golden Crescent, dan Golden Peacock.

Golden Triangle atau Segitiga Emas mencakup wilayah Myanmar, Thailand bagian utara, dan Laos bagian utara. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu produsen utama narkotika sintesis, terutama metamfetamin, terbesar di Asia Tenggara.

Sementara Golden Crescent atau Bulan Sabit Emas meliputi Afghanistan, Iran, dan Pakistan. Wilayah ini menjadi pemasok utama opium dan heroin ke berbagai belahan dunia.

BACA JUGA:KTP Dipakai Pinjol Tanpa Disadari? Ini Cara Cek Online dan Offline yang Wajib Kamu Tahu!

Adapun Golden Peacock merujuk pada jaringan narkotika dari kawasan Amerika Selatan dan Amerika Tengah, khususnya Meksiko dan Brasil. Dari wilayah ini, pasokan utama berupa kokain, metamfetamin, hingga zat sintetis berbahaya seperti fentanil banyak diproduksi.

Kartel Sinaloa dan Ancaman ke Indonesia

BNN mengidentifikasi bahwa jaringan Golden Peacock memiliki keterkaitan dengan kartel besar di Meksiko, termasuk Kartel Sinaloa.

“Jaringan-jaringan narkotika dari kartel Sinaloa Meksiko merupakan ancaman dan mengonfirmasi adanya penyelundupan narkotika yang terkait dengan jaringan di Indonesia,” kata Suyudi.

Sepanjang 2024, BNN tercatat berhasil mengungkap 27 jaringan narkoba di Indonesia yang memiliki kaitan dengan Golden Peacock, terutama kartel-kartel asal Meksiko.

Salah satu kasus besar yang pernah terungkap adalah jaringan Gregor Haas yang disebut sebagai bagian dari jaringan Kartel Sinaloa yang berpusat di Meksiko.

Meski demikian, BNN menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya kerja sama langsung antara bandar di Indonesia dengan kartel Meksiko secara formal. Hubungan yang terjadi lebih bersifat rantai pasok melalui jaringan perantara internasional.

Jalur Laut Jadi Pintu Masuk Utama

Dalam pengamatannya, BNN menemukan bahwa jalur laut menjadi pintu utama penyelundupan narkotika ke Indonesia.

Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan garis pantai yang sangat panjang, Indonesia memiliki banyak celah perbatasan maritim yang rawan dimanfaatkan sindikat internasional.

“Jalur laut sering dimanfaatkan mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak celah gelap di perbatasan maritimnya,” ujar Suyudi.

Namun, jaringan Golden Peacock juga kerap menggunakan jalur udara dengan modus penyamaran. Kurir narkoba menyusup melalui bandara dengan berbagai teknik penyelundupan.

Modusnya pun semakin canggih. Narkoba disembunyikan dalam kemasan produk legal seperti teh China, popok bayi, hingga barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Bahkan, ada laporan bahwa kartel Amerika Selatan menggunakan kapal selam untuk mengirimkan narkotika lintas negara.

BACA JUGA:Cara Cek Bansos Rp900.000 Awal Tahun 2026, CATAT Syarat dan Jadwal Pencairannya

Narkotika Jenis Baru dan Ancaman Fentanil

BNN juga menyoroti masuknya narkotika jenis baru atau new psychoactive substances (NPS). Bahan baku pembuatan metamfetamin dan zat berbahaya seperti fentanil banyak dilaporkan berasal dari Meksiko dan China.

Zat-zat ini sangat berbahaya karena efeknya lebih kuat dan berisiko memicu overdosis dalam dosis kecil sekalipun.

Perkembangan jenis narkotika sintetis ini menjadi tantangan baru bagi aparat penegak hukum karena pola distribusinya cepat dan sulit dilacak.

Dampak Situasi Genting di Meksiko

Situasi keamanan di Meksiko saat ini disebut dalam kondisi genting. Pemerintah setempat melakukan pengamanan maksimal menyusul tewasnya Nemesio Oseguera alias El Mencho, bos kartel narkotika CJNG, dalam operasi militer.

Kematian buronan internasional dengan nilai buron mencapai 10 juta dolar AS tersebut memicu aksi balasan dari kelompok kartel, termasuk penyerangan acak di sejumlah wilayah.

Konflik internal kartel inilah yang menurut BNN berdampak pada terganggunya rantai distribusi narkoba internasional, termasuk yang mengarah ke Indonesia.

Bandar di Indonesia, kata Suyudi, cenderung mencari jalur alternatif yang dianggap lebih ekonomis dan aman ketika terjadi gangguan di salah satu sumber pasokan.

Momentum Perang Kartel, Peluang Pengetatan Pengawasan

Meski perang kartel di Meksiko disebut “menguntungkan” karena mengganggu pasokan, BNN menegaskan bahwa ancaman narkoba tetap nyata.

Gangguan satu jalur bisa saja memunculkan jalur baru dari kawasan lain seperti Golden Triangle atau Golden Crescent.

Karena itu, penguatan pengawasan jalur laut dan udara menjadi kunci utama. Kolaborasi internasional juga terus ditingkatkan untuk memutus rantai pasok lintas negara.

 

Perang narkoba di Meksiko mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi dampaknya terasa hingga ke dalam negeri.

Di tengah konflik kartel global, Indonesia tetap harus waspada agar tidak menjadi pasar empuk bagi jaringan narkotika internasional.

Kategori :