Tolak Ikut Perang AS, Kapal Kontainer Milik Prancis Lolos dari Lintasi Selat Hormuz

Sabtu 04-04-2026,14:58 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, sebuah kapal kontainer milik perusahaan pelayaran Prancis, CMA CGM, dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dan keluar dari kawasan Teluk.

Kapal tersebut bernama CMA CGM Kribi, yang berlayar di bawah bendera Malta. Informasi ini pertama kali diungkap oleh laporan media internasional Financial Times yang mengutip data pelacakan kapal dari platform analitik maritim MarineTraffic.

Perjalanan kapal ini menjadi perhatian global karena diyakini sebagai kapal milik perusahaan Barat pertama yang berani melewati Selat Hormuz sejak konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat pada akhir Februari 2026.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan strategis yang sangat penting bagi ekonomi dunia.

BACA JUGA:Yadea OSTA Resmi Meluncur di Indonesia, Motor Listrik Canggih dengan Jarak Tempuh Hingga 150 Km

Selat Hormuz Jalur Vital Perdagangan Energi Dunia

Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Namun sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas, jalur pelayaran tersebut praktis mengalami gangguan besar.

Banyak perusahaan pelayaran memilih menunda atau mengalihkan rute karena risiko keamanan yang sangat tinggi, termasuk ancaman serangan militer maupun ranjau laut.

Kapal CMA CGM Kribi dilaporkan mengaktifkan transpondernya di dekat pantai lepas Dubai pada 28 Maret sebelum akhirnya melewati selat tersebut.

Dalam perjalanannya, kapal itu terlihat mengitari Pulau Larak, jalur yang kini sering digunakan kapal yang ingin melintasi kawasan tersebut dengan risiko relatif lebih rendah.

Ketegangan Politik Macron dan Trump Memanas

Peristiwa ini juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan politik antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Hubungan kedua pemimpin yang sebelumnya cukup baik kini mulai merenggang.

Trump secara terbuka mengkritik Macron karena menolak mendukung operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dalam sebuah acara pribadi, Trump bahkan melontarkan komentar yang dianggap menyerang secara personal terhadap Macron.

Ia menyindir hubungan Macron dengan istrinya, Brigitte Macron, sambil mengejek posisi Prancis yang tidak membantu Amerika dalam konflik Timur Tengah.

Pernyataan tersebut memicu respons diplomatik dari Paris.

Prancis Tegas Menolak Terlibat dalam Perang

BACA JUGA:Daftar Kode Voucher Shopee 99 Persen Terbaru April 2026, Buruan Klaim Sebelum Habis

Meski merupakan sekutu dekat Amerika Serikat di NATO, pemerintah Prancis memilih tidak terlibat langsung dalam kampanye militer melawan Iran.

Macron menegaskan bahwa Prancis tidak akan mengirim kapal perang untuk membantu membuka blokade Selat Hormuz melalui operasi militer.

Sebagai gantinya, Prancis hanya memperkuat sistem pertahanan di kawasan Teluk untuk melindungi negara-negara sekutu.

Prancis diketahui telah:

  • Mengirim jet tempur ke kawasan Teluk
  • Menggelar sistem pertahanan udara
  • Menempatkan aset angkatan laut di sekitar Siprus

Namun langkah tersebut bersifat defensif, bukan bagian dari operasi penyerangan terhadap Iran.

Negara Eropa Lain Ikut Menahan Diri

Prancis tidak sendirian dalam sikap tersebut.

Beberapa negara Eropa lainnya seperti:

  • Spanyol
  • Italia

juga menolak memberikan akses pangkalan udara mereka untuk pesawat militer Amerika Serikat yang terlibat dalam kampanye militer.

Bahkan di forum Dewan Keamanan PBB, Prancis dilaporkan menolak resolusi yang diajukan oleh Bahrain terkait penggunaan kekuatan militer untuk membuka Selat Hormuz.

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan, Prancis memiliki hak veto yang dapat menggagalkan resolusi tersebut.

Dampak Global: Harga Energi dan Pangan Terancam

Blokade Selat Hormuz telah menimbulkan dampak besar bagi ekonomi global.

Selain minyak dan gas, jalur ini juga menjadi rute penting bagi perdagangan bahan baku pupuk.

Diperkirakan sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur ini memicu:

  • lonjakan harga energi global
  • gangguan rantai pasok industri
  • potensi krisis pangan di negara berkembang

Sejumlah kapal tanker energi tetap mencoba melintasi selat tersebut, termasuk kapal LNG milik perusahaan Jepang Mitsui O.S.K. Lines bernama Sohar yang berlayar di bawah bendera Panama.

Upaya Internasional Mengatasi Krisis

Di tengah situasi tersebut, komunitas internasional mulai mencari solusi diplomatik.

Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan bahwa lebih dari 40 negara telah melakukan pertemuan virtual untuk membahas langkah koordinasi menghadapi krisis Selat Hormuz.

Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah membuka koridor pelayaran kemanusiaan.

Koridor ini bertujuan untuk memastikan pengiriman pupuk dan bahan pangan tetap berjalan demi mencegah krisis pangan di negara-negara miskin.

Selain itu, para pemimpin dunia dijadwalkan bertemu pekan depan untuk membahas kemungkinan operasi:

  • pembersihan ranjau laut
  • penyelamatan kapal yang terjebak di selat
  • pengamanan jalur perdagangan internasional

AS Klaim Bisa Membuka Selat Hormuz

Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sebenarnya mampu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun menurutnya, operasi tersebut akan membutuhkan waktu tambahan.

“Amerika Serikat bisa dengan mudah membuka selat itu, tetapi membutuhkan sedikit waktu lagi,” ujar Trump.

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konflik geopolitik di kawasan Teluk masih jauh dari kata selesai.

Kategori :