AS Perintahkan Pembersihan Ranjau di Selat Hormuz, Operasi Diprediksi Berlangsung Berbulan-bulan

Minggu 26-04-2026,09:00 WIB
Reporter : Jeany Pohan
Editor : Priya Satrio

JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melakukan operasi pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz.

Langkah ini diambil setelah Iran dilaporkan menebar ranjau di jalur pelayaran vital tersebut sejak meningkatnya konflik pada akhir Februari 2026.

Perairan Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Gangguan di kawasan ini berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan minyak global.

BACA JUGA:Respons Iran atas Komentar Donald Trump: Tidak Ada yang Bisa Larang Kami ke Piala Dunia!

Operasi Bisa Berlangsung Hingga Enam Bulan?

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa proses pembersihan ranjau diperkirakan memakan waktu hingga enam bulan.

"Kami yakin dengan kemampuan kami, dalam periode waktu yang tepat, kami akan membersihkan setiap ranjau yang teridentifikasi," kata Hegseth dikutip Associated Press, Sabtu 24 April 2025.

Sementara itu, Trump juga menegaskan bahwa operasi tersebut akan ditingkatkan secara signifikan.

"Sebagai tambahan, pembersih ranjau kami sedang membersihkan Selat (Hormuz). Saya memerintahkan aktivitas ini dilanjutkan, tetapi dengan peningkatan hingga tiga kali lipat!" tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social, Kamis 23 April 2026.

Operasi ini menjadi strategi terbaru Amerika Serikat untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat konflik.

Penutupan jalur tersebut sebelumnya memicu lonjakan harga minyak dunia.

Iran diketahui menutup akses Selat Hormuz setelah meningkatnya eskalasi konflik dengan AS dan Israel, yang disebut-sebut memuncak pada akhir Februari lalu.

Situasi semakin kompleks setelah adanya aksi balasan berupa blokade akses ke pelabuhan-pelabuhan Iran.

BACA JUGA:Jangan Sampai Ketinggalan! Ada Gratis Tumbler di McDonald's Berlaku Selama Oktober 2025, Begini Caranya

Tantangan Besar di Lapangan

Pakar dari Foreign Policy Research Institute, Emma Salisbury, menilai operasi ini tidak akan mudah dilakukan.

Kategori :