Kesiapan fasilitas akomodasinya pun sangat mumpuni. Selain ratusan pesantren yang siap disulap menjadi pusat kegiatan dan penginapan khas santri dengan daya tampung masif, Cirebon juga ditopang oleh infrastruktur komersial yang matang.
Tercatat sekitar 1.960 kamar hotel berbintang tiga dan empat siap digunakan, belum termasuk jaringan penginapan kelas menengah dan homestay yang tersebar merata di penjuru kota dan kabupaten.
Pada akhirnya, kita meyakini bahwa Muktamar NU bukanlah sekadar forum administratif untuk merevisi aturan atau suksesi kepemimpinan.
Muktamar adalah ruang perjumpaan batin, etalase kebudayaan, ajang kaderisasi, dan kompas peneguhan arah peradaban.
Hasrat Cirebon untuk mengambil bagian dalam khidmah besar ini berangkat dari kesadaran paripurna.
Cirebon tidak hanya siap secara teknis dan logistik, tetapi juga telah matang secara historis, kultural, dan batiniah.
Jabat erat antara Gus Ipul dan Kiai Imjaz adalah pendulum yang mulai bergerak—sebuah harapan besar agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama benar-benar pulang ke tanah para santri, tanah para pejuang, dan tanah yang sejak berabad silam merawat napas Islam Nusantara.
Muktamar adalah ruang perjumpaan batin, etalase kebudayaan, ajang kaderisasi, dan kompas peneguhan arah peradaban.
Hasrat Cirebon untuk mengambil bagian dalam khidmah besar ini berangkat dari kesadaran paripurna.
Cirebon tidak hanya siap secara teknis dan logistik, tetapi juga telah matang secara historis, kultural, dan batiniah.
Jabat erat antara Gus Ipul dan Kiai Imjaz adalah pendulum yang mulai bergerak—sebuah harapan besar agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama benar-benar pulang ke tanah para santri, tanah para pejuang, dan tanah yang sejak berabad silam merawat napas Islam Nusantara.
Penulis: Husain Sanusi adalah Pegiat Literasi Santri