JAKARTA, Semaraknews.co.id – Pemerintah memutuskan menambah amunisi pembiayaan Kredit Program Perumahan (KPP) setelah realisasinya melesat dalam enam bulan pertama 2026. Hingga akhir Juni, dana yang sudah tersalurkan mencapai Rp20,3 triliun atau 57,71 persen dari plafon awal sebesar Rp35,2 triliun.
Laju penyaluran yang dinilai melampaui ekspektasi itu membuat pemerintah berani menaikkan plafon pembiayaan KPP menjadi Rp50 triliun. Langkah tersebut diharapkan menjaga momentum pembiayaan sektor perumahan yang terus bergerak sepanjang tahun.
Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Sri Haryati mengatakan tingginya serapan anggaran menjadi dasar pemerintah menambah kapasitas pembiayaan program tersebut.
“Realisasi Kredit Program Perumahan hingga 30 Juni 2026 telah mencapai Rp20,3 triliun atau 57,71 persen dari plafon Rp35,2 triliun. Karena perkembangannya sangat baik, pemerintah memutuskan menaikkan plafon menjadi Rp50 triliun,” ujar Sri Haryati di Jakarta, Rabu.
BACA JUGA:Rumah Subsidi Digenjot, Backlog Belum Tumbang! Ara Ajak Warga Borong FLPP Sebelum Harga Melesat
Sri menjelaskan aliran pembiayaan KPP masih didominasi sektor penyedia atau supply. Porsi terbesar mengalir kepada para pengembang perumahan dengan nilai mencapai Rp3,7 triliun.
Selain menyokong pengembang, dana program tersebut juga disalurkan kepada toko bahan bangunan serta kontraktor yang menjadi bagian dari rantai pasok pembangunan perumahan.