Disabilitas Tak Mau Lagi Dipinggirkan, Peminat UNJ Meledak, Bukti Kampus Inklusif Bukan Sekadar Pajangan

Sabtu 18-07-2026,10:04 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Semakin banyak penyandang disabilitas yang memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Fenomena itu tercermin dari meningkatnya jumlah peserta jalur disabilitas di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada penerimaan mahasiswa baru 2026.

UNJ mencatat sebanyak 138 peserta mengikuti Penmaba Mandiri Jalur Disabilitas tahun ini. Angka tersebut naik sekitar 9,6 persen dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebanyak 125 peserta.

“Naik dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 125 orang,” kata Kepala Kantor Admisi UNJ, I Wayan Sugita, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut Wayan, kenaikan jumlah peserta menjadi sinyal bahwa semakin banyak penyandang disabilitas yang ingin mengakses pendidikan tinggi. Ia menilai, kebijakan pendidikan inklusif yang diterapkan UNJ ikut mendorong meningkatnya kepercayaan calon mahasiswa untuk mendaftar.

Tahun ini, tiga fakultas yang paling banyak diminati peserta jalur disabilitas adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Bahasa dan Seni. Sementara program studi dengan jumlah peminat terbanyak adalah Program Sarjana Terapan Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan.

BACA JUGA:Prabowo Semprot yang Gemar Ikut Asing, Sindir Indonesia Gelap dan Ramalan RI Bakal Ambruk yang Tak Kunjung Datang

Proses seleksi Penmaba Mandiri Jalur Disabilitas digelar secara luring di Gedung Dewi Sartika UNJ, Jakarta. Lokasi tersebut dipilih karena telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang aksesibilitas, mulai dari jalur khusus pengguna kursi roda hingga lift dengan penanda huruf braille.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Ifan Iskandar, menegaskan jalur disabilitas merupakan bagian dari komitmen kampus agar setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi.

“Karena itu, layanan pendukung terus kami siapkan agar proses seleksi berjalan secara adil dan mudah diakses,” ujar Ifan.

Peserta yang mengikuti seleksi tahun ini berasal dari beragam latar belakang kebutuhan disabilitas. Salah satunya adalah Shafa Keila Wardhani, calon mahasiswa dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Shafa memilih Program Studi Tata Rias Fakultas Teknik karena bercita-cita menjadi seorang make-up artist. Baginya, kuliah merupakan jalan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperbesar peluang bersaing di dunia kerja.

“Awalnya saya pernah dirundung dan direndahkan. Tetapi saya berusaha bangkit karena keluarga selalu mendukung saya,” kata Shafa.

BACA JUGA:Motor Listrik MBG Sudah Lunas Rp411 Miliar, Tapi Belum Jadi Aset Gara-gara Korupsi Dibongkar Kejaksaan

Kisah serupa datang dari Dehan, lulusan SLB A Pembina Tingkat Nasional Jakarta yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra. Ia memilih Program Studi Pendidikan Khusus di Fakultas Ilmu Pendidikan karena ingin ikut membangun dunia pendidikan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.

“Saya senang melihat cara guru mengajar. Dari situ saya mulai tertarik dengan pendidikan khusus,” ujarnya.

Kategori :