Vitamin E dipilih karena memiliki kemampuan antioksidan yang dapat membantu mengurangi stres oksidatif akibat radikal bebas.
Menurut tim peneliti, perpaduan kedua bahan tersebut diharapkan memberikan perlindungan ganda terhadap kulit dari paparan sinar matahari.
Lignin berperan sebagai penyerap sinar ultraviolet, sedangkan vitamin E mendukung perlindungan melalui aktivitas antioksidan.
BACA JUGA:Bank Indonesia Tarik Koin Rp 1.000 Kelapa Sawit dan Rp 500 Melati dari Peredaran
Proses Pembuatan Krim Melalui Beberapa Tahapan
Tahapan penelitian dimulai dengan mengisolasi lignin dari tandan kosong kelapa sawit menggunakan metode alkaline pulping.
Setelah dimurnikan, lignin kemudian dicampurkan bersama vitamin E ke dalam basis krim melalui proses emulsifikasi.
Formula tersebut juga menggunakan asam stearat, setil alkohol, gliserin, trietanolamin, serta akuades sebagai bahan pendukung.
Sob, seluruh campuran diproses hingga menghasilkan tekstur krim yang stabil dan siap menjalani berbagai pengujian awal.
Tim turut mengukur tingkat keasaman atau pH untuk memastikan karakteristik produk berada pada kisaran yang sesuai.
BACA JUGA:5 Manfaat Buah Tomat untuk Kesehatan, Baik untuk Jantung hingga Cegah Kanker
Panelis Memberikan Respons Positif terhadap Prototipe
Setelah berhasil membuat prototipe, tim melakukan uji hedonik untuk mengetahui tingkat penerimaan calon pengguna terhadap produk tersebut.
Penilaian meliputi warna, aroma, tekstur, kenyamanan saat digunakan, hingga sensasi ketika krim diaplikasikan pada permukaan kulit.
Hasil pengujian menunjukkan mayoritas panelis menerima karakteristik fisik krim dengan respons yang cukup menggembirakan.
Tandan kosong kelapa sawit yang selama ini dikenal sebagai salah satu limbah padat industri sawit berhasil diolah menjadi sediaan krim tabir surya oleh siswa SMA Islam Hasmi-Dok-
Namun, uji tersebut hanya mengukur tingkat kesukaan pengguna dan belum membuktikan efektivitas perlindungan terhadap sinar ultraviolet.
Guru pembimbing menjelaskan bahwa efektivitas perlindungan memerlukan pengujian ilmiah lanjutan menggunakan metode laboratorium yang lebih mendalam.