Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi syariah sepanjang tahun ini berada di kisaran 7 hingga 9 persen. Ekspansi pembiayaan ritel, peningkatan literasi keuangan syariah, serta peran pemerintah melalui instrumen sukuk menjadi sejumlah pendorongnya.
Namun, Ronny mengingatkan bahwa persoalan utama bukan lagi sekadar seberapa cepat aset tumbuh. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan tersebut.
Dalam kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, mulai dari suku bunga tinggi hingga volatilitas nilai tukar, industri keuangan syariah dituntut menjaga kualitas pembiayaan. Jika tidak, pertumbuhan aset justru bisa dibarengi peningkatan risiko pembiayaan bermasalah.
Tantangan lain juga masih menumpuk. Industri keuangan syariah menghadapi keterbatasan inovasi produk, rendahnya integrasi dengan ekosistem halal, serta kebutuhan meningkatkan efisiensi operasional agar mampu bersaing dengan lembaga keuangan konvensional.
Masalah likuiditas dan skala usaha juga belum selesai. Menurut Ronny, industri keuangan syariah Indonesia masih relatif terfragmentasi sehingga kemampuan melakukan ekspansi dalam skala besar menjadi terbatas.
Dalam situasi likuiditas global yang ketat, akses terhadap pendanaan menjadi semakin penting. Tanpa konsolidasi dan penguatan permodalan, industri keuangan syariah akan kesulitan memperbesar skala bisnis dan mengejar posisi sebagai pemain utama dalam sistem keuangan nasional.