Ekonomi Syariah Indonesia Makin Gemuk, BI Bilang Potensinya Besar tapi Manfaatnya Jangan Cuma Jadi Angka
BI menyebut ekonomi syariah Indonesia berpotensi jadi sumber pertumbuhan baru dengan aset keuangan syariah mencapai Rp3.131 triliun.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Ekonomi syariah Indonesia sedang menunjukkan pertumbuhan yang cukup kencang. Bank Indonesia melihat sektor ini bukan sekadar pelengkap sistem ekonomi nasional, tetapi berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan potensi tersebut perlu digenjot melalui perluasan pembiayaan syariah, pengembangan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi, serta peningkatan literasi ekonomi syariah. Sebab, kalau ekonomi syariah cuma sibuk menghitung aset dan peringkat, sementara manfaatnya tidak sampai ke masyarakat, ya buat apa juga.
Posisi Indonesia dalam peta ekonomi syariah global juga disebut terus menguat. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, Indonesia berada di peringkat keempat dunia. Pada triwulan II 2026, sektor unggulan dalam rantai nilai halal Indonesia tumbuh 5,50 persen secara tahunan.
“Pertumbuhan terutama ditopang oleh sektor makanan halal, fesyen muslim, dan pariwisata ramah muslim,” kata Destry saat membuka Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 26 September 2026.
Tidak cuma sektor riil yang tumbuh. Aset keuangan syariah Indonesia kini mencapai Rp3.131 triliun. Di saat yang sama, tingkat literasi ekonomi syariah juga meningkat cukup signifikan, dari 16,3 persen pada 2019 menjadi 50,18 persen pada 2025.
Namun, Destry menilai sederet angka tersebut tidak boleh berhenti sebagai statistik yang enak dipajang dalam laporan tahunan. Capaian ekonomi syariah harus diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Karena itu, pengembangan ekonomi syariah membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan. Destry menilai integrasi antarsektor menjadi salah satu kunci agar potensi ekonomi syariah tidak berjalan sendiri-sendiri.
BACA JUGA:Biaya Haji 2027 Naik, Prabowo Pasang Rem Agar Jemaah Tak Makin Tekor
“Kunci mewujudkannya adalah sinergi. Semangat sinergi inilah yang kita wujudkan melalui Festival Syariah Jawa 2026,” ujar Destry.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga mengingatkan agar ukuran keberhasilan ekonomi syariah tidak berhenti pada besarnya aset. Menurut dia, ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh aktivitas tersebut menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan hanya seberapa besar asetnya, tetapi seberapa luas manfaat dan kemaslahatan yang dihasilkannya,” ujarnya.
Pesan tersebut coba diterjemahkan melalui Festival Syariah Jawa 2026 yang berlangsung pada 25 hingga 27 September 2026. Festival tersebut mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”
Sejumlah program disiapkan dalam festival tersebut. Mulai dari Pasar Rakyat dan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat untuk memperluas akses pasar UMKM, pengembangan wakaf uang untuk mendukung sektor pendidikan, hingga pembiayaan perumahan bagi guru madrasah dan pesantren anggota HEBITREN.
Jawa Timur dipilih bukan tanpa alasan. Provinsi ini punya basis masyarakat Muslim yang besar, dengan sekitar 97,33 persen penduduknya beragama Islam. Jawa Timur juga memiliki 7.347 pesantren yang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi dan sosial masyarakat.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-