“Selain manufaktur, kontributor utamanya jelas yang berkaitan dengan tembaga dan pertambangan, tetapi permintaan kedua terbesar adalah jasa lainnya atau pusat data,” tuturnya.
Permintaan sektor industri dan logistik juga masih ditopang oleh penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI). Farazia menyebut porsi FDI di sektor manufaktur mencapai 50 persen.
Pertumbuhan FDI pada kuartal II 2026 pun tercatat melesat 7 persen secara tahunan. Dengan demikian, ketika manufaktur, pertambangan, tembaga, dan terutama data center sama-sama berebut ruang, kawasan industri Indonesia tampaknya sedang menghadapi persoalan baru. Bukan lagi soal ada investor atau tidak, tetapi siapa yang paling cepat mendapatkan lahan, listrik, dan infrastruktur untuk membangun industrinya.