Secara geografis, elektabilitas Dedi paling tinggi di Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Wilayah yang relatif dekat dengan pusat aktivitas politik nasional sekaligus wilayah yang menjadi panggung utama Dedi sebagai gubernur.
Hasil survei Tempo Data Science tersebut tidak berdiri sendirian. Survei Saiful Mujani Research and Consulting yang dirilis pada akhir Juli 2026 juga menunjukkan kenaikan elektabilitas Dedi. Dalam survei SMRC, elektabilitas Dedi mencapai 35 persen, naik dari 19,7 persen pada November 2025.
Namun, tidak semua lembaga survei menghasilkan angka yang sama. Poltracking Indonesia pada April 2026 justru menempatkan Dedi dengan elektabilitas 13,5 persen. Dalam survei tersebut, Prabowo berada jauh di atasnya dengan angka 32,9 persen.
Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa survei elektabilitas tidak bisa dibaca seperti hasil pertandingan sepak bola yang tinggal melihat papan skor. Metode, periode survei, pertanyaan, komposisi responden dan konteks politik saat survei dilakukan ikut memengaruhi hasil.
Meski begitu, tren kenaikan Dedi tetap menarik perhatian pengamat politik. Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno melihat ada sejumlah faktor yang membuat popularitas dan elektabilitas Dedi terus menanjak.
BACA JUGA:Danantara Siapkan Pembenahan Antam, Trading Emas Jadi Sorotan Utama, Dony Oskaria Ungkap Arah Baru
Salah satunya adalah konsistensi Dedi memproduksi konten mengenai aktivitasnya sehari-hari. Hampir setiap hari ada saja kegiatan yang ditampilkan kepada publik melalui media sosial.
“Hampir setiap hari dia memamerkan semua kegiatannya. Nyaris tiada hari tanpa ‘bapak aing’,” kata Adi pada Rabu, 26 Agustus 2026. Istilah “bapak aing” merupakan julukan yang kerap disematkan kepada Dedi dan berarti “bapak saya”.
Menurut Adi, Dedi juga belum menghadapi kritik tajam yang secara signifikan menggerus citranya sebagai Gubernur Jawa Barat. Konten yang muncul mengenai Dedi justru banyak menampilkan aktivitas yang bersifat positif dan humanis.
“Konten-konten Dedi positif dan humanis,” tuturnya.
Masalahnya, elektabilitas tinggi belum otomatis berarti tiket menuju Pilpres 2029. Ada satu persoalan yang cukup sederhana tetapi bisa menjadi tembok besar bagi Dedi, yaitu kendaraan politik.
Dedi merupakan kader Partai Gerindra, sementara Prabowo adalah Ketua Umum partai tersebut. Jika Gerindra kembali mencalonkan Prabowo pada Pemilu 2029, kenaikan elektabilitas Dedi justru berhadapan dengan struktur politik partainya sendiri.
Adi menilai publik memahami posisi tersebut. Dedi boleh saja unggul dalam survei, tetapi sebagai kader Gerindra ia tetap memiliki garis politik yang harus diperhitungkan.
“Publik tahu kader pasti tegak lurus dengan Prabowo,” ujar Adi.
Karena itu, jika benar-benar ingin maju sebagai calon presiden pada 2029, Dedi harus mencari dukungan partai politik. Persoalannya, memperoleh dukungan dari partainya sendiri bukan perkara mudah jika Gerindra sudah menetapkan Prabowo sebagai kandidat.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah melihat faktor lain yang membuat elektabilitas Dedi melesat, yaitu populisme dan kemampuan memanfaatkan media sosial.