Elektabilitas Dedi Mulyadi Meledak, Prabowo Terancam Jadi Penonton di 2029?

Kamis 27-08-2026,08:30 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Menurut dia, politik elektoral masih sangat dipengaruhi ketokohan personal. Figur yang mampu membangun kesan dekat dengan masyarakat, melakukan sesuatu yang dianggap luar biasa, serta menunjukkan kepedulian dan kedermawanan cenderung lebih mudah mendapat perhatian pemilih.

Pola semacam itu pernah terlihat dalam kemenangan Joko Widodo pada Pilpres 2014 dan 2019. Dedi Kurnia menilai Dedi Mulyadi berhasil mengadopsi formula tersebut.

“Dedi Mulyadi berhasil mereplikasi yang sudah dilakukan Jokowi dalam hal memupuk kesukaan publik,” ucapnya pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut Dedi Kurnia, Prabowo juga sempat menggunakan pendekatan serupa ketika mengikuti Pilpres 2024. Namun setelah menjadi presiden, aktivitas Prabowo lebih banyak berada dalam ruang formal pemerintahan.

Dedi Mulyadi justru mengambil jalur yang berbeda. Ia tetap tampil dalam berbagai kegiatan informal yang kemudian didokumentasikan dan disebarkan melalui media sosial.

Salah satu contohnya adalah ketika Dedi mengunjungi korban gempa di Nusa Tenggara Timur pada Jumat, 21 Agustus 2026. Kunjungan tersebut kemudian diunggah melalui akun Instagram dan YouTube miliknya.

Salah satu video di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel yang memperlihatkan kunjungannya kepada korban gempa dan penyaluran bantuan telah ditonton sekitar 339 ribu kali hingga Rabu malam, 26 Agustus 2026. Video lainnya dari kunjungannya ke NTT bahkan telah ditonton 946 ribu kali.

Ada satu detail yang membuat kunjungan tersebut semakin menarik dalam kalkulasi politik. Dedi datang ke lokasi gempa lebih dulu dibandingkan Prabowo.

Prabowo baru mengunjungi lokasi gempa di Pulau Flores pada Rabu, 26 Agustus 2026, atau 11 hari setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.

Bagi Dedi Kurnia, setiap momentum yang berhasil menarik perhatian publik dapat berubah menjadi panggung politik, termasuk ketika momentum tersebut berada di luar wilayah kekuasaan Dedi sebagai gubernur.

“Siapa pun hari ini yang berhasrat mendapatkan perhatian publik harus mengikuti tren yang dibangun Jokowi. Sekarang hanya Dedi Mulyadi yang berhasil mengikuti persis cara Jokowi membangun citra,” ujarnya.

Tempo telah berupaya meminta tanggapan Dedi Mulyadi melalui sekretaris pribadinya, Ahmad. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan atas pertanyaan yang diajukan.

Dari kubu Gerindra, kenaikan elektabilitas Dedi tidak dianggap sebagai ancaman bagi Prabowo. Juru bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso justru melihat hasil tersebut sebagai bukti bahwa partainya berhasil melahirkan kader yang dipercaya masyarakat.

“Gerindra tidak terdistraksi oleh spekulasi politik 2029 karena semua elemen partai dari pengurus pusat hingga ranting tetap berfokus mendukung penuh agenda Presiden Prabowo dalam menuntaskan amanat rakyat, bukan terjebak dalam kontestasi politik prematur,” katanya pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Dengan begitu, angka 42 persen milik Dedi untuk sementara masih menjadi angka survei, bukan tiket pencalonan. Tetapi politik punya kebiasaan buruk, angka survei yang terus membesar biasanya sulit diabaikan. Apalagi jika yang membesar bukan cuma angkanya, melainkan juga panggung media sosial dan persepsi publik terhadap sang kandidat.

Kategori :