JAKARTA, Semaraknews.co.id — Jumlah warga yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) di Sidoarjo terus bertambah. Hingga Rabu, 2 September 2026 pukul 00.30 WIB, tercatat 566 orang mengalami keluhan kesehatan.
Korban bukan cuma santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin. Sejumlah siswa SD dan SMP yang menerima menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo, juga ikut masuk daftar korban.
Sebelumnya, sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam dilaporkan mengalami keluhan yang diduga berkaitan dengan makanan MBG. Angka itu kemudian bertambah 135 orang, dengan para korban tersebar di sejumlah rumah sakit dan sebagian lainnya menjalani rawat jalan di rumah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan sebagian korban yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit kini sudah diperbolehkan pulang. Namun, urusan belum benar-benar kelar karena masih ada puluhan korban yang harus menjalani perawatan.
“Sampai saat ini masih ada 88 orang yang masih dirawat,” kata Lakhsmie kepada awak media.
BACA JUGA:Prabowo Janji Bikin Warga NU Tak Lagi Tercekik Rentenir
Keluhan yang dialami para korban antara lain pusing, mual, muntah, dan diare. Salah satu tindakan medis yang dilakukan adalah rehidrasi untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat muntah dan diare.
Humas RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Rizqi Maulana, membenarkan bahwa sebagian pasien berasal dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Namun, rumah sakit juga menerima pasien dari sejumlah sekolah lain di sekitar Kecamatan Tanggulangin.
“Seperti itu, terdapat pula sejumlah pasien dari sekolah lain di sekitar Tanggulangin, seperti SDN Kalitengah 1, SDN Kalitengah 2, dan SMP Tri Bakti,” kata Rizqi.
Sementara itu, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Ia menyebut proses pengolahan makanan MBG dilakukan sebagaimana biasanya.
“Memasak pukul 00.00 WIB. Dikirim pukul 11.00 WIB. Masih batas aman karena dikonsumsi sebelum batas aman empat jam pengiriman,” ucap Rafli.
Rafli juga mengatakan makanan yang dibagikan telah melewati pemeriksaan sebelum dikonsumsi. Proses pemeriksaan tersebut, menurut dia, turut melibatkan pihak sekolah dan pondok pesantren dengan cara mencicipi makanan sebelum disajikan kepada siswa dan santri.
Para santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam menyantap menu MBG pada Selasa, 1 September 2026 sekitar pukul 12.00 WIB. Sekitar enam jam berselang, tepatnya pukul 18.00 WIB, sejumlah santri mulai mengalami mual, muntah, dan diare.
Kini, angka korban sudah mencapai 566 orang. Program yang namanya membawa embel-embel “bergizi” itu pun kembali berhadapan dengan pertanyaan klasik yang mestinya tak perlu muncul kalau urusan makanan massal benar-benar dikawal dari dapur sampai meja makan.