Letusan Krakatau 1883 Mengubah Langit Dunia, Hingga Bikin Matahari Merah dan Bulan Biru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Senin 07-09-2026,19:46 WIB
Reporter : Tyo Sulistio
Editor : Tyo Sulistio

SEMERAKNEWS.CO.ID - Letusan Krakatau pada 1883 tidak hanya menghancurkan kawasan sekitar Selat Sunda. Material vulkanik yang terlontar ke atmosfer menyebar jauh dan membuat masyarakat di Eropa serta Amerika menyaksikan perubahan warna langit selama berbulan-bulan setelah bencana.

Letusan mencapai puncaknya pada 27 Agustus 1883. Sebagian besar pulau hancur dan tsunami besar menerjang pesisir di sekitar Selat Sunda. Korban meninggal diperkirakan lebih dari 36.000 orang, sementara ratusan permukiman di Jawa dan Sumtera ikut terdampak.

BACA JUGA:Gunung Merapi Dikabarkan Kebakaran, Petugas Turun Cek: Api Ternyata Sudah Padam

Dahsyatnya letusan Krakatau 1883 juga terdengar hingga ribuan kilometer. Gelombang tekanan atmosfer yang dihasilkan bahkan tercatat mengelilingi Bumi beberapa kali. Pada saat yang sama, material dalam jumlah besar naik ke atmosfer dan menyebar mengikuti sirkulasi udara global.

Beberapa bulan kemudian, penduduk di berbagai wilayah Eropa dan Amerika melaporkan pemandangan matahari terbenam yang tidak biasa. Langit terlihat merah menyala, dengan nuansa jingga, ungu, bahkan hijau dalam kondisi tertentu. Bulan juga disebut tampak kebiruan atau kehijauan.

Fenomena langit merah akibat Krakatau berkaitan dengan aerosol sulfat vulkanik di atmosfer. Partikel tersebut memengaruhi cara cahaya Matahari tersebar. Dalam keadaan normal, cahaya biru lebih banyak terhambur ketika Matahari berada dekat cakrawala. Aerosol vulkanik membuat proses optik itu berlangsung lebih dramatis.

BACA JUGA:Delapan Bandara Kembali Ditutup Usai Anak Krakatau Menghembuskan Abu Vulkanik Kesekian Kalinya

Dampaknya tidak berhenti pada perubahan warna. Aerosol yang mencapai atmosfer membantu memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke angkasa. Setelah letusan, suhu rata-rata global dilaporkan turun sekitar 0,5–0,6 derajat Celsius sebelum berangsur kembali menuju kondisi normal.

Krakatau juga kerap dikaitkan dengan lukisan The Scream karya Edvard Munch. Munch pernah menggambarkan langit “merah darah” yang dilihatnya di Norwegia. Sejumlah peneliti menduga pemandangan itu mungkin dipengaruhi efek atmosfer pascaerupsi Krakatau.

Namun, hubungan antara letusan Krakatau dan inspirasi langsung untuk lukisan tersebut masih berupa teori yang diperdebatkan. Belum ada kepastian mutlak bahwa fenomena yang dilihat Munch memang berasal dari dampak erupsi 1883.

BACA JUGA:Jangan Langsung Ambil Sapu, Ini Cara Aman Bersihkan Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau di Rumah

Terlepas dari perdebatan itu, sejarah dampak global Krakatau menunjukkan bahwa letusan besar di Indonesia dapat memengaruhi cahaya, suhu, dan persepsi manusia terhadap langit di berbagai belahan dunia selama berbulan-bulan setelahnya secara global.

Kategori :