Yusril Ihza Mahendra, yang namanya bahkan tercantum di sampul depan buku, juga membantah pernah menulis untuk penerbitan tersebut. Ia mengaku hanya pernah diwawancarai seseorang yang memperkenalkan diri sebagai bagian dari tim penyusun.
“Saya tidak ingat namanya. Saya juga enggak tahu apakah orang yang wawancara saya itu sama dengan penyusun ataukah tim mereka,” ujar Yusril.
Setelah wawancara berlangsung, Yusril tidak pernah mendapat informasi mengenai perkembangan proyek buku. Ia juga tidak membaca naskah akhir sebelum buku diterbitkan. Judulnya pun baru diketahui setelah buku beredar.
“Mengenai judul buku juga saya tidak tahu apa-apa. Enggak pernah diajak bicara sama penyusunnya,” kata Yusril.
Yusril menegaskan bahwa dirinya bukan sponsor maupun inisiator penerbitan buku tersebut. Ia hanya memberikan pandangan yang menurutnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Jika namanya disebut sebagai pemegang hak cipta, ia menduga hal itu berkaitan dengan artikel hasil wawancaranya.
“Bahwa di buku saya disebut sebagai pemegang hak cipta, mungkin itu hak cipta pada artikel wawancara saya saja,” katanya.
Yusril juga mengaku tidak mengetahui siapa yang menggagas pembuatan buku tersebut. Ia baru mengetahui buku itu dicetak pertama kali pada April 2025.
“Saya bukan inisiator dan bukan sponsor,” ujarnya.
Buku Islam ala Prabowo kemudian diluncurkan pada Selasa, 26 Agustus 2025, berbarengan dengan agenda rapat koordinasi nasional Badan Amil Zakat Nasional. Berdasarkan informasi Antara yang diberitakan tahun lalu, penulisan buku itu diinisiasi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Ahmad Muzani dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar.
Ahmad Muzani tercantum sebagai penulis prolog berjudul “Islam ala Prabowo: Integrasi Spiritualitas dan Visi Pembaharuan untuk Indonesia Raya”. Tempo telah berupaya meminta konfirmasi kepada Muzani dan Anwar Iskandar mengenai keterlibatan mereka. Namun, hingga berita ini ditulis, keduanya belum memberikan tanggapan.
Selain Muzani dan Anwar Iskandar, Ketua Baznas periode 2020-2025 Noor Achmad juga tercantum sebagai penulis dan hadir dalam peluncuran buku. Noor menyebut penerbitan buku itu merupakan bentuk kolaborasi antar-institusi.
Pada awalnya, Noor mengatakan kepada Tempo bahwa proyek tersebut diinisiasi MPR. Namun, ia kemudian meralat pernyataan itu setelah melakukan pengecekan. Menurut Noor, inisiatif penulisan berasal dari tim penyusun yang terdiri atas Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
“Maaf, setelah saya cek ternyata inisiatif penulisan buku bukan dari tim MPR, melainkan buku tersebut inisiatif dari tim penulis,” katanya.
Noor mengaku sudah menanyakan persoalan tersebut langsung kepada tim penulis. Namun, ketika Tempo meminta akses untuk menghubungi para penyusun, ia tidak lagi memberikan respons.
Polemik kemudian merembet ke persoalan pembiayaan. Baznas membantah bahwa dana zakat, infak, dan sedekah digunakan untuk menerbitkan buku tersebut. Ketua Baznas Sodik Mudjahid mengatakan keterlibatan lembaganya dalam peluncuran buku pada 2025 hanya berkaitan dengan hubungan kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.
“Pembuatan dan penerbitan buku tersebut sama sekali tidak menggunakan dana zakat, infak, dan sedekah yang dipercayakan masyarakat,” ujar Sodik.