SEMERAKNEWS.CO.ID – Neurolog anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyatakan tidak menemukan gangguan fungsi otak pada pasien anak pertama asal Sumatera Utara yang sebelumnya viral disebut mengalami hilang ingatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Prof Dr dr R A Setyo Handryastuti, SpA, Subsp Neuro(K), memeriksa langsung pasien tersebut. Pemeriksaan mencakup wawancara dengan pasien dan keluarga, penelaahan data perawatan sebelumnya, pemeriksaan fisik dan neurologis, serta elektroensefalografi atau EEG untuk menilai aktivitas listrik otak.
BACA JUGA:Siswi Korban Keracunan MBG Dibawa ke RSCM, Menteri Kesehatan Janji Bongkar Penyebab Hilang Ingatan
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan gangguan fungsi otak. Dokter menilai pasien dapat kembali beraktivitas dan menjalani kegiatan dengan lebih ceria. Pernyataan tersebut tidak menetapkan bahwa MBG menjadi penyebab atau bukan penyebab keluhan, karena sumber hanya memuat hasil pemeriksaan pasien.
Pasien pertama dan satu pasien lain dirujuk dari Sumatera Utara. Keduanya tiba di RSCM pada Sabtu, 12 September 2026, dan tidak datang dalam kondisi yang membutuhkan perawatan intensif. Mereka dirawat di ruang rawat biasa.
Pasien pertama juga dievaluasi tim psikiatri untuk menilai status mental dan fungsi kognitif. Prof Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ, Subsp AR(K), mengatakan kondisi pasien cukup baik dan emosinya relatif stabil.
BACA JUGA:Batu Bara Mau Disulap Jadi Bensin, Bahlil Siap Jalankan Titah Prabowo
Meski demikian, kegelisahan masih muncul sesekali. Tim medis akan terus mendampingi pasien selama proses pemulihan, terutama apabila keluhan tersebut masih terjadi.
Istilah “hilang ingatan” yang beredar di media sosial perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan medis. Penyebutan di media sosial bukan diagnosis. Kesimpulan kesehatan harus didasarkan pada pemeriksaan dan evaluasi tenaga medis.
Dokter juga belum menyampaikan rincian penyebab keluhan atau kondisi pasien kedua secara lengkap. Karena itu, informasi mengenai hubungan antara konsumsi MBG dan kondisi neurologis tidak dapat ditarik hanya dari narasi viral.
Hasil awal RSCM menunjukkan kondisi pasien pertama cukup baik. Pendampingan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan pemulihan berjalan dan setiap keluhan baru dapat segera dievaluasi.
BACA JUGA:Ratusan Anak Keracunan Gegara MBG, Komnas HAM Sentil Pemerintah, Jangan Tunggu Korban Jadi Angka
Tim medis tidak hanya menilai kondisi fisik, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis pasien. Pendampingan keluarga dan evaluasi berkala diperlukan karena pemulihan dapat berlangsung bertahap. Informasi mengenai pasien sebaiknya disampaikan dengan menjaga privasi dan tidak memperbesar stigma.