Anak Krakatau Turun Level, Tapi Jangan Geer! 224 Kali Erupsi, Warga Tetap Dilarang Mendekat

Rabu 23-09-2026,07:00 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Gunung Anak Krakatau akhirnya menurunkan level aktivitasnya. Mulai Senin, 21 September 2026 pukul 18.30 WIB, status gunung api yang bertengger di perairan Selat Sunda itu kembali ke Level II atau Waspada.

Sebelumnya, Anak Krakatau berada di Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Selama periode tersebut, gunung api ini tercatat terus beraktivitas dan beberapa kali mengalami erupsi dengan sebaran abu vulkanis yang cukup luas, bahkan terbang sampai ke wilayah Jawa bagian barat dan Sumatera Barat.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, selama berstatus Siaga hingga 3 September 2026, Gunung Anak Krakatau telah mengalami 224 kali erupsi. Angkanya tentu bukan sesuatu yang bisa disebut sekadar batuk-batuk biasa.

Dalam Laporan Khusus Nomor 1604.Lap/GL.03/BGL/2026, Lana juga mencatat adanya erupsi menerus yang berlangsung lebih dari sehari. Erupsi tersebut terjadi sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, atau berlangsung sekitar 25 jam.

Berdasarkan pemantauan citra satelit, erupsi panjang tersebut menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat, hingga barat daya dari pusat erupsi. Abu vulkanisnya bahkan mencapai kawasan Jabodetabek.

Dampaknya bukan cuma soal langit yang mendadak berdebu. Aktivitas vulkanik Anak Krakatau sempat membuat otoritas penerbangan menutup sejumlah bandara demi keselamatan penerbangan, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Meski aktivitasnya belum sepenuhnya berhenti, Badan Geologi melihat tren penurunan setelah erupsi menerus tersebut berakhir. Hingga 20 September pukul 00.00 WIB, Anak Krakatau masih tercatat mengalami tujuh kali letusan strombolian, tetapi intensitas aktivitasnya cenderung menurun.

BACA JUGA:Nusron Mundur dari Golkar di Tengah Badai KPK, Partai Bilang Sudah Lama, Publik Keburu Curiga

“Selain itu, gejala penurunan aktivitas gunung api Anak Krakatau didukung oleh data deformasi yang memperlihatkan adanya penurunan atau deflasi,” ujar Lana.

Catatan kegempaan pada 20 September 2026 juga menunjukkan hanya terjadi satu kali gempa frekuensi rendah. Sementara itu, amplitudo tremor menerus tercatat rata-rata sekitar 2 milimeter.

Namun, turunnya status dari Siaga ke Waspada bukan berarti Anak Krakatau mendadak jinak dan boleh dijadikan lokasi piknik. Badan Geologi tetap melarang masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki memasuki kawasan gunung api tersebut.

Radius aman juga ditetapkan sejauh 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jarak ini berkurang 1 kilometer dibandingkan ketika gunung tersebut masih berstatus Siaga.

Jadi, statusnya memang turun satu tingkat, tetapi bukan berarti aturan keselamatan ikut turun. Alam tidak mengenal istilah “sudah Waspada berarti aman-aman saja”.

“Tingkat aktivitas gunung api Anak Krakatau akan dievaluasi kembali secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan,” kata Lana.

Kategori :