Empat Gunung Api Mengamuk Bersamaan, Hoaks Dapur Magma Ikut Meletus

Empat Gunung Api Mengamuk Bersamaan, Hoaks Dapur Magma Ikut Meletus

Gunung Merapi dikabarkan kebakaran usai awan panas guguran. Petugas BTNGM mengecek sejumlah titik dan memastikan api sudah padam.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id -- Indonesia kembali menunjukkan tabiat alamnya yang sulit ditebak. Dalam waktu berdekatan, tiga gunung api tercatat mengalami erupsi, yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga sedang menunjukkan aktivitas yang meningkat.

Rentetan erupsi ini terjadi sejak Senin hingga Selasa, 8 September 2026. Bagi sebagian orang, empat gunung api yang aktif hampir bersamaan terdengar seperti skenario film bencana. Namun bagi ahli kebumian, fenomena tersebut bukan tanda bumi sedang membuka pintu kiamat, melainkan bagian dari dinamika alam di negeri yang memang duduk manis di atas jalur Cincin Api Pasifik.

Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Gunung api yang statusnya telah dinaikkan menjadi Siaga sejak awal Juli itu tercatat mengalami erupsi menerus pada 4 hingga 6 September lalu. Semburan abu vulkaniknya bahkan menyebar hingga wilayah Jawa bagian barat dan sebagian Sumatera.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat aktivitas erupsi Anak Krakatau masih berlangsung hingga Selasa. Berdasarkan laporan seismograf dalam situs MAGMA Indonesia, erupsi terjadi pada pukul 05.08 WIB, 05.34 WIB, dan 07.49 WIB.

Namun, ketika beberapa gunung api meletus hampir bersamaan, narasi liar ikut bermunculan. Ada yang menghubungkan seluruh gunung tersebut melalui satu jaringan dapur magma raksasa, bahkan ada pula yang menuduh erupsi terjadi akibat rekayasa teknologi buatan manusia.

BACA JUGA:Abu Krakatau Bikin Napas Terancam, Menkes Minta Warga Ngumpet di Rumah Seminggu

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyebut anggapan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Menurut dia, Indonesia memang berada di wilayah yang sangat aktif secara geologi karena menjadi tempat bertemunya beberapa lempeng bumi.

"Indonesia berada di kawasan sistem subduksi lempeng yang aktif dengan puluhan gunung api aktif yang berada dalam status Siaga atau Waspada," kata Daryono dalam keterangan tertulis yang dibagikan pada Senin, 7 September 2026.

Dia menjelaskan Indonesia berada di zona konvergensi kompleks, tempat Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kondisi inilah yang membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif.

Meski empat gunung api mengalami peningkatan aktivitas dalam periode yang hampir bersamaan, Daryono menegaskan tidak ada bukti adanya satu saluran magma bawah tanah yang menghubungkan seluruh gunung tersebut. Ilustrasi yang beredar di media sosial mengenai empat gunung api yang disebut memiliki dapur magma bersama hanyalah klaim tanpa dukungan ilmu kebumian.

Daryono juga membantah teori yang menyebut erupsi gunung api dipicu oleh senjata atau teknologi tertentu. Menurutnya, gagasan tersebut bertentangan dengan prinsip dasar geologi.

"Erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif, yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun," ujarnya.

BACA JUGA:EIGER Nature Perkuat Konservasi Puncak dengan 120 Ribu Pohon dan Konsep 7E di Puncak Bogor

Ia menjelaskan energi pemicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Tekanan dalam kantong magma juga dapat mencapai ratusan MegaPascal, sehingga tidak mungkin dikendalikan oleh teknologi buatan manusia.

"Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya," tuturnya.

Menurut Daryono, setiap gunung api memiliki sistemnya sendiri. Ketika tekanan gas dan magma dalam masing-masing gunung telah mencapai ambang tertentu pada waktu yang hampir bersamaan, erupsi dapat terjadi tanpa adanya hubungan langsung antar gunung.

Perbedaan karakter erupsi juga terlihat dari tinggi kolom abu yang dihasilkan. Anak Krakatau menjadi yang paling signifikan karena material vulkaniknya mencapai wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Sebaliknya, erupsi Gunung Semeru dengan kolom abu sekitar 1.000 meter, Gunung Ili Lewotolok sekitar 600 meter, dan Gunung Ibu sekitar 400 meter menunjukkan aktivitas yang lebih terkonsentrasi di sekitar wilayah kawah.

"Ketinggian kolom abu dipengaruhi kekuatan tekanan gas dalam saluran kawah atau conduit serta gaya apung termal pada kolom erupsi ketika berinteraksi dengan massa udara di sekitarnya," kata Daryono.

BACA JUGA:Motor Listrik Nasional Mau 100 Ribu Unit Setahun, Jangan-Jangan Nasionalnya Cuma Nama

Ia menjelaskan perilaku abu dan material vulkanik dipengaruhi faktor kimia serta fisika magma, termasuk kadar silika dan kandungan gas seperti H2O, CO2, dan SO2. Magma yang lebih kental dengan kandungan gas tinggi cenderung menghasilkan erupsi eksplosif dengan abu halus yang dapat terbawa jauh oleh angin.

Sementara itu, gunung api dengan magma lebih cair dan saluran yang relatif terbuka cenderung melepaskan tekanan secara bertahap melalui erupsi berulang dengan skala menengah. Dampaknya biasanya lebih banyak berada di sekitar kawasan kawah.

Jadi, ketika gunung api Indonesia ramai-ramai "bersuara", penyebabnya bukan karena dapur magma sedang mengadakan rapat besar di bawah tanah. Bumi hanya sedang menjalankan pekerjaannya sendiri, sementara manusia sibuk mencari cerita yang kadang lebih panas daripada lava itu sendiri.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler