Tak berhenti pada telur, BGN juga menemukan sejumlah bagian dapur yang kondisi kebersihannya perlu mendapat perhatian. Meski begitu, lembaga tersebut masih menahan diri untuk menyebut temuan itu sebagai penyebab gangguan kesehatan.
“Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi,” kata dia.
BGN juga menemukan adanya makanan yang dibawa pulang oleh sebagian penerima manfaat. Menurut Ketut, tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Namun, sekali lagi, BGN belum mau buru-buru menyimpulkan penyebab keracunan. Seluruh rantai pengelolaan makanan masih diperiksa, mulai dari bahan baku tiba di dapur, proses memasak, penyimpanan, pemorsian, sampai makanan dibagikan kepada penerima manfaat.
Program makan bergizi gratis pun kembali berhadapan dengan pertanyaan lama yang mestinya tidak perlu terus diulang. Ketika makanan yang seharusnya membuat anak-anak sehat justru berujung diare dan mual, persoalannya bukan sekadar soal siapa yang dicopot. Standar keamanan pangan, pengawasan dapur, dan disiplin menjalankan SOP juga ikut dipertaruhkan.